Sunday, March 8, 2026

[REVIEW] Pelarian Dua Arah

Pelarian Dua Arah
Olen Saddha
Bhuana Sastra
184 Halaman

“Kita jalani hidup sendiri-sendiri, Gor. Kita nggak bisa bergantung sama orang lain untuk selesein masalah kita.”


B L U R B

Ini kisah tentang Bia dan Saga, dua anak manusia yang masing-masing berlari menjauh dari dunia yang penuh tuntutan dan larangan. Bia dengan cita-citanya yang dikubur paksa oleh pacar dan ibunya sendiri, Saga dengan tuntutan pacarnya untuk memikirkan masa depan dan karier.

Lewat gedung pertunjukan dan panggung teater, keduanya sepakat berhenti sejenak untuk menemukan diri mereka sendiri di sana.

- - - - - - - - - 

Bagi Bia, teater dan puisi adalah dunianya. Sayangnya, Gora–pacarnya dan Bu Desy–ibunya sangat tidak menyetujui hal tersebut. Bagi Bu Desy, menjadi aktris adalah hal yang sia-sia, mengapa tidak melakukan hal lain saja? Menjadi pengusaha misalnya? Apapun, asalkan jangan menjadi aktris.
“Nggak salah, Bi. Yang salah itu kalau kamu nggak jadi diri kamu sendiri.” — P. 42
Sementara bagi Saga, saat ini keluarganya lah yang paling utama. Kehilangan Ayah, membuat dia mau tak mau menjaga yang ada, Ibu dan Nolan–adiknya. Saat ini, kuliahnya masih tidak begitu jelas kapan akan selesai, tapi prioritasnya adalah membantu Ibu dan adiknya hidup lebih layak.

Di gedung pertunjukkan, keduanya dekat dan saling berbagi cerita. Lewat teater juga, mereka saling membagi impian mereka. Bisakah mereka akhirnya menyelesaikan masalah mereka masing-masing?


Pelarian Dua Arah sudah menjadi buku incaranku ketika aku nggak sengaja buka websitenya Bhuana Sastra. Aku kira, awalnya ini tentang toxic relationship yang rumit dan nggak menemukan titik terangnya. Yang orang-orangnya menyebalkan gitu. Ternyata enggak.

Tentang Bia dan Saga yang simply hanya ingin menikmati ‘waktu’ mereka masing-masing. Bia dengan dunia teaternya, mimpi masa kecilnya, harus berjalan beriringan dengan larangan ibu dan pacarnya, belum lagi ada beberapa kejadian yang nggak mengenakkan yang harus diterimanya dari Gora.

Sementara Saga, tidak hanya harus berjuang untuk menggantikan posisi ayahnya yang meninggal, dia juga harus memenuhi ekspektasi Ava—pacarnya yang sejak bekerja menjadi punya banyak tuntutan untuk Saga. 

Di awal aku sempat bertanya-tanya, sebesar apa sih kesalahan ayahnya sampai-sampai ibunya Bia kok melarang Bia mati-matian ke teater, bahkan Bia juga harus diam-diam kalau ada kebutuhan untuk teater. Setelah tau gimana kelakuan ayahnya Bia, aku juga ikutan kesel setengah mati. Kok bisa sih ada orang yang pikirannya tuh cupet banget. Kenapa nggak dia memilih untuk bekerja keras membuktikan bahwa dia bisa sukses di dunia teater? Kenapa malah milih jalan yang ampun Tuhan… nggak sanggup lagi aku.

Kisah Saga-Bia ini menurutku sering kita temui di kehidupan sehari-hari, Saga yang lebih memilih memendam, tapi pas ketauan kaget juga. Bia yang serba ‘aku’ dan berusaha mewujudkan mimpinya. Tapi dibalik itu semua, aku cukup kagum sama Bia. Ketika dia sudah menargetkan sesuatu, dia bener-bener mati-matian juga untuk mendapatkan hal itu. Walaupun banyak rintangan, itu nggak menyurutkan Bia. Kalau Saga, aku suka ketenangannya. Cara dia menyikapi suatu masalah, top banget. Menurutku, Ibunya berhasil membesarkan dan mendidik Saga.

Pelarian Dua Arah buatku nggak cuma tentang kehidupan remaja, tapi juga pelarian yang manis. Kukira buku ini bakalan tebal, ternyata tipis dan hangat sekali. Setelah baca, aku senyum-senyum barengan sama Bia-Saga.


From the book…
“Nggak salah, Bi. Yang salah itu kalau kamu nggak jadi diri kamu sendiri.” — P. 42

“Katanya kita harus tahu apa tujuan hidup kita. Tapi begitu tahu, hidup seolah menjauhkan kita dari tujuan itu.” — P. 50

“Katanya kita harus jadi manusia yang sederhana. Tapi nyatanya hidup nggak pernah berpihak pada siapa pun yang memilih hidup biasa-biasa saja.” — P. 51

“Impianku jadi aktris juga timbul-tenggelam. Bahkan aku nggak yakin itu bisa terwujud atau nggak. Tapi, adanya impian itu bikin aku ingat kalau aku masih hidup di dunia. Dan selama masih hidup, yang namanya rintangan nggak akan pernah ada liburnya, kan?” — P. 51

“Katanya, kadang kita harus menyayangi orang yang salah dulu sebelum menemukan orang yang telat. Kamu percaya?” — P. 60

“Kita jalani hidup sendiri-sendiri, Gor. Kita nggak bisa bergantung sama orang lain untuk selesein masalah kita.” — P. 159

“Sebetulnya mereka tidak benar-benar yakin, apakah mereka telah melakukan sebuah pelarian atau tidak. Namun, jika memang demikian, berlari berdua membuat mereka sadar, inilah pelarian paling indah untuk menemukan diri mereka yang sebenarnya.” — P. 174

Sunday, February 22, 2026

[REVIEW] Monster Minister



Monster Minister
Aya Widjaja
Kepustakaan Populer Gramedia
328 Halaman

“Sebaik-baiknya bos dan setinggi-tingginya gaji, pasti ada obrolan di belakang berisi caci maki.”

Sunday, February 15, 2026

[REVIEW] Cinta Bertepuk Sebelah Mana

Cinta Bertepuk Sebelah Mana
Dimas Abi
Gramedia Pustaka Utama
264 Halaman

“Ternyata terpisah jarak itu nyebelin, Gus. Ngejalaninnya nggak semudah yang aku kira. Jadi kayaknya aku harus berani ungkapin semuanya.”


B L U R B

“Naryo, mungkin nggak sih persahabatan kita berakhir di pelaminan?”

Perkara Lian suka mengganti panggilan Gusti seenak jidat memang sudah tabiatnya. Namun, pertanyaan Lian itu sukses bikin Gusti minum obat masuk angin. Masalahnya, ia tak pernah menganggap Lian lebih dari sahabat, meski orangtua mereka berharap sebaliknya. Dengan janji akan memberikan kepastian, Gusti berangkat ke Jepang untuk melanjutkan studinya.

Namun, Gusti menyimpan tujuan lain: mencari Seruni, cinta lamanya yang dulu tak pernah terbalas. Takdir mempertemukan mereka kembali, dan kali ini Seruni memberi isyarat yang berbeda. Gusti kini terjebak dalam dua pilihan yang rasanya mustahil. Cinta yang dulu bertepuk sebelah tangan, kini berubah menjadi cinta bertepuk… sebelah mana?

- - - - - - - - - - -

Bagi Gusti, persahabatannya dengan Lian sejak jaman SMP ya bener-bener hanya sahabatan. Tempat dia nyambat, susah, seneng, apalagi orangtua mereka juga udah deket. Tapi ketika pertanyaan Lian dipenghujung umurnya yang menjelang kepala tiga, Gusti kembali memikirkan persahabatannya lagi selama ini. Masa iya, sahabat jadi cinta? 
“Cinta pada pandangan pertama itu cuma terjadi sama Uni dan Tae Hyung Oppa. Cinta yang cuma terjadi antara seorang fans ke idolanya. Bukan cinta untuk hidup bersama, Gus.” — P. 225
Bukannya Lian nggak cantik, tapi yang Gusti mau bukan Lian. Gusti maunya sama Seruni, cinta pertamanya, cinta monyetnya, cinta sekonyong-konyong kodernya. Kali ini, dengan perjalanannya ke Jepang untuk melanjutkan studi, Gusti juga memiliki agenda lain yaitu bertemu dengan Seruni. Kira-kira gayung bersambut nggak ya? Mengingat Seruni dulu adalah idola semua orang, apa ya nggak makin minder Gusti deketinnya?


Seperti kata kebanyakan orang, pertemanan dua orang yang beda gender itu biasanya nggak ada yang beneran murni. Pasti salah satunya jatuh cinta. Sama seperti Lian dan Gusti, berteman sejak jaman SMP, membuat keduanya paham sifat baik-buruk keduanya. Termasuk siapa yang disukai satu sama lain.

Banyak juga yang bilang first love never dies, cinta pertama nggak pernah mati. Dia cuma tertidur nyenyak aja. Mungkin ini yang dirasakan sama Gusti sama Seruni, cinta pertamanya sejak SMA. Ketika ada kesempatan untuk lanjut S2 ke Jepang dan bertemu kembali, kenapa enggak? Sambil menyelam, minum air!

Pas awal membaca kisah Gusti-Lian-Seruni, aku sempat jadi tim Gusti-Seruni. Soalnya Gusti kan memperjuangkan cinta yang sejak dulu diinginkan, kenapa enggak? Tapi pas tau kalo Seruni nggak sebaik itu, kayaknya jadi temen aja deh. Mendingan sama Lian aja. Daripada makan ati sama Seruni. Ternyata banyak juga ya orang yang enak untuk diajak berteman aja ketimbang masuk dalam suatu hubungan.

Selama membaca dari pertengahan sampe akhir, seru banget sih. Selain melihat perjuangan Gusti mendapatkan Seruni, kita juga diajak jalan-jalan ke Jepang yang memanjakan mata banget. Sesekali aku berhenti untuk cek tempat-tempat yang didatangi sama Gusti dan Herman.

Mengambil setting tempat di Jepang dan Yogyakarta, kita juga diselipkan bagaimana kebiasaan penduduk setempat, budayanya, dan juga bahasanya.

Sosok yang paling kusuka di sini malah Herman, sahabatnya Gusti yang juga kebetulan S2 bareng sama Gusti. Dia ini cowok yang realistis banget, meskipun kadang agak norak dikit. 

Menurutku, buku ini nggak cuma mengajarkan siapa yang lebih pantas buat kita, tapi juga perlakuan dalam satu hubungan. Apalagi melihat Seruni yang cukup dominan dan banyak ngatur di sini. Dan kayaknya kebanyakan cowok tuh lebih ‘nangkep’ perasaannya setelah ditinggal atau bahkan dicuekin dulu ya?

Overall, menikmati sekali baca kisah Gusti-Lian-Seruni ini, sambil menikmati Yogyakarta dan Jepang.


From the book …
“Ibuk nggak lihat itu sebagai masalah, Gus. Lian itu baik, pinter, nyambung, dan yang jelas wes ngerti kamu. Dalam pernikahan justru itu yang penting. Lihat Bapak dan Ibuk, bisa bertahan gara-gara itu semua.” — P. 14

“Maksudku gini, Gus. Ada 133 juta wanita di Indonesia. Ini data BPS lho. Artinya banyak banget pilihane, Gus. Dan dirimu tetap terjebak di satu cewek?” — P. 87

“Ternyata terpisah jarak itu nyebelin, Gus. Ngejalaninnya nggak semudah yang aku kira. Jadi kayaknya aku harus berani ungkapin semuanya.” — P. 133

“Berbahagia karena seseorang itu boleh. Tapi menggantungkan kebahagiaan hanya ke segelintir orang, nah iku sing bikin mumet, Nduk.” — P. 187

“Intinya gini lho, Nduk. Sebagian besar yang ada di hidupmu ini, sebenarnya adalah hal-hal yang bisa kamu kendalikan. Termasuk perasaanmu, masalahmu. Bunda nggak bisa ngatur perasaanmu, Bunda juga nggak bisa menyelesaikan masalahmu. Kamu sendiri yang bisa mengatur dan menyelesaikannya. Bunda cuma bisa bantu.” — P. 188

“Cinta pada pandangan pertama itu cuma terjadi sama Uni dan Tae Hyung Oppa. Cinta yang cuma terjadi antara seorang fans ke idolanya. Bukan cinta untuk hidup bersama, Gus.” — P. 225

“Gini, Gus. Setiap orang pasti punya kesalahan. Dan, setiap kesalahan punya konsekuensi. Ini konsekuensi yang harus kamu jalani. Kamu juga sih, Gus, ada Lian yang sayang sama kamu, tapi kamunya merem.” — P. 241


Sunday, February 8, 2026

[REVIEW] Ikan Kecil

Ikan Kecil
Ossy Firstan
Gramedia Pustaka Utama
248 Halaman

“Dia sudah nggak di perutku lagi, Eyas. Dunia semakin keras tiap harinya, aku takut dia nggak bahagia sudah dilahirkan. Dia lebih aman di perut.”


B L U R B

Pertanyaan “kapan hamil?” harus dijawab oleh pasangan suami-istri Celoisa dan Deas dengan senyuman selama 45 bulan. Akhirnya mereka bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan kehadiran “ikan kecil” di perut Celoisa. Namun, ternyata itu bukan akhir dari masalah kehidupan rumah tangga mereka.

Saat bayi Olei tumbuh perlahan, Loi dan Deas merasakan ada yang berbeda dari perkembangan anak mereka. Olei sulit sekali diajak berinteraksi. Sepertinya bayi itu hidup dalam dunianya sendiri. Setelah serangkaian tes dijalani Olei, vonis autis datang, Loi pun langsung diterjang rasa bersalah dan penyangkalan demi penyangkalan.

Ini kisah tentang “ikan” di perut yang lahir ke dunia. Tentang mendapatkan apa yang tak pernah diharapkan dan berusaha menerima apa yang tidak pernah diminta.

“Loi, kamu bisa aja nggak menerima kalau Olei autis. Tetapi jangan lupa, Olei itu anak kamu, anak kita. Jangan lupa kalau seorang anak nggak pernah meminta untuk dilahirkan, tapi orangtua yang sering meminta Tuhan biar bisa punya anak.”

- - - - - - - - - - -

Menikah dan punya anak sekarang sudah seperti perlombaan. Siapa cepat, dia pemenangnya. Nggak hanya berhenti sampai disana, kalau punya anak satu, ditanyain kapan punya anak selanjutnya. Kalau sudah agak besar, ditanyai pencapaiannya apa. Nggak ada habisnya. Begitu pula, dengan Celoisa dan Deas. Setelah berusaha selama empat puluh lima bulan, akhirnya mereka berhasil mendapatkan ‘ikan kecil’ untuk rumah tangga mereka.
“Bu Celoisa, semakin dini diketahui suatu gangguan, maka penanganan bisa diberikan semakin cepat. Perkembangan anak Bu Celoisa bisa seperti anak lainnya kalau lebih cepat diintervensi sejak dini.” — P.105
Seharusnya, punya anak saja cukup kan? Tapi ternyata tantangan nggak berhenti di sana. Tumbuh kembang anak pun masuk jadi bahan pertandingan. Bagaimana kalau Olei tidak bisa mencapai tumbuh kembang seusianya? Bagaimana Celoisa dan Deas harus bersikap?


Memilih Ikan Kecil dari sekian banyak buku yang ada di gramedia digital itu cukup bikin ketar-ketir. Awalnya, kukira hanya tentang memiliki anak aja, maklum, aku biasanya nggak baca blurbnya, dan beberapa teman bookstagram sudah membaca, aku kira aman ya. Ternyata cukup bikin aku yang punya anak ketar-ketir.

Menikah dan punya anak, ini seperti perlombaan dan hal wajib dalam masyarakat. Target menikah harus diumur sekian, target punya anak pertama umur sekian, anak cuma satu? Kenapa nggak dua? Anak sudah dua? Kenapa nggak nambah lagi? Nanti kalo sudah sekolah, kenapa nggak sekolah di tempat A/B/C? Bener-bener standarnya banyak bener.

Nggak cuma membahas tentang kehidupan pernikahan Celoisa dan Deas, tapi juga banyak membahas tentang bagaimana saat kehamilan, lahiran dan punya anak. Lengkap banget. 

Deas di sini bener-bener jadi ayah yang siaga! Bisa membersamai Celoisa yang down sejak hamil, menyusui, dan membesarkan Eloi. Bahkan mau repot untuk riset lebih dalam tentang anak autis dan ngajak Celoisa untuk ikut andil di dalamnya. Salut buat Deas. Reaksi Celoisa di sini juga bisa diterima, meskipun pas awal aku agak kesel sama dia, tapi kalau aku di posisi Celoisa pun aku mungkin melakukan hal yang sama.

Menurutku, menikah dan punya anak itu juga nggak harus ada standarnya sendiri kok. Mau nikah umur 30 atau 35, punya anak diumur 35 pun nggak masalah. Memang, risikonya lebih besar, tapi bisa dibantu dengan vitamin dan lainnya. 

Mengurus anak, nggak hanya jadi tanggung jawab Ibu aja. Tapi Ayah juga harus ikut dalam perkembangan anak. Apalagi kalau anak ini ‘spesial’, hadirnya ayah jadi semakin penting. Punya anak yang normal aja susah banget kalo cuma ngurus sendirian, apalagi anak spesial.

Membaca Ikan Kecil kembali mengingatkanku ke masa-masa awal lahiran, capeknya pumping, dan menyusui, masa-masa ngecek milestone terus apa anaknya udah sesuai ya perkembangannya? Apa yang kurang?

Sangat merekomendasikan baca Ikan Kecil untuk semuanya. Karena nggak cuma calon orangtua, siapa tau kita bisa jadi saudara yang tanggap untuk bantu saat saudara lainnya udah punya anak.


From the book …
“Dia sudah nggak di perutku lagi, Eyas. Dunia semakin keras tiap harinya, aku takut dia nggak bahagia sudah dilahirkan. Dia lebih aman di perut.” — P. 58

“Bu Celoisa, semakin dini diketahui suatu gangguan, maka penanganan bisa diberikan semakin cepat. Perkembangan anak Bu Celoisa bisa seperti anak lainnya kalau lebih cepat diintervensi sejak dini.” — P.105

“Kadang kita harus berhenti menyalahkan dan lihat ke depan, Loi. Untuk apa ngungkit-ngungkit sebab kalau itu bikin apa yang bisa kita perbaiki terbengkalai?” — P. 119

“Jangan menyalahkan diri sendiri untuk hal-hal yang bukan salah kamu, Loi.” — P. 128

“Mama yakin kamu bisa jadi ibu yang baik untuk Olei. Tinggal kamunya, mau atau nggak jadi ibu yang baik untuk Olei? Mengikhlaskan keadaan itu nggak bisa instan, Nduk. Pelan-pelan.” — P. 144

“Aku nggak tahu apakah ini berhasil, tapi aku cuma berusaha, Loi. Aku pengin kamu balik jadi Loi yang dekat ke Olei sebelum vonis autis ada. Aku mau Olei tahu orangtuanya sayang sama dia. Bahwa dia ada karena orangtuanya yang meminta ada, dan dia merasa beruntung punya kita sebagai orangtua.” — P. 183

“Hmm.. mungkin lapang dada itu ikhlas ya, Loi. Misal baju kita ketumpahan cat, ya kita harus terima bajunya kotor. Daripada ngabisin tenaga marah-marah sama catnya, mending kita cuci bajunya. Kalau memang nggak bisa hilang, mungkin sudah saatnya jadi kain pel.” — P. 187

“Loi, kamu bisa aja nggak menerima kalau Olei autis. Tetapi jangan lupa, Olei itu anak kamu, anak kita. Jangan lupa kalau seorang anak nggak pernah meminta untuk dilahirkan, tapi orangtua yang sering meminta Tuhan biar bisa punya anak. Kalau Olei nggak pernah protes sudah dilahirkan dengan keadaan seperti itu, nggak pernah protes punya ibu yang belum bisa menerima dia, kenapa kamu nggak mau berusaha terima dia?” — P. 188


[REVIEW] Dua Sisi

Dua Sisi
Arata Kaivan
Wattpad
205 Halaman

“Seseorang yang sudah mati, tidak akan takut dengan apapun.”


B L U R B

Di dunia di mana garis batas antara benar dan salah hanyalah ilusi, beberapa orang terpaksa berjalan di tepi bayangan. Gilang, Rizal, Chacha, dan sekutu mereka berjuang melawan organisasi gelap yang memiliki kekuatan jauh melampaui yang bisa mereka bayangkan. Setiap langkah membawa mereka lebih dalam ke konflik yang tidak hanya mengancam nyawa, tetapi juga moral dan hubungan mereka.

Di balik setiap baku tembak dan pengkhianatan, tersimpan dilema yang lebih besar: bagaimana menebus janji, melindungi yang dicintai, dan tetap hidup ketika sistem hukum dan kekuatan yang lebih besar menuntut harga yang mahal? Keputusan mereka bisa menyelamatkan nyawa atau menghancurkan semuanya.

Dua Sisi adalah kisah tentang keberanian di tengah kegelapan, pengorbanan yang pahit, dan 
pencarian identitas di dunia yang menuntut orang untuk memilih antara hidup atau tetap 
menjadi hantu. Di antara pertempuran, strategi, dan trauma, setiap karakter harus menemukan sisi mana yang akan mereka pertahankan: sisi kemanusiaan mereka... atau sisi bertahan hidup yang tak kenal ampun.

- - - - - - - - - 

Dua Sisi merupakan lanjutan dari Satu Titik, jadi untuk yang mau membaca review sebalumnya dipersilahkan.

Kehidupan Rizal, Gilang, Chacha, Ilham, dan sebagian anak geng motor mulai terpecah. Fokus Gilang, Rizal, Chacha dan Ilham tentu saja memberantas geng Hydra, agar tidak ada lagi penguasa yang bertindak seenaknya, bermain politik sesuka hati mereka. Keempatnya selalu berusaha untuk menyusup dan menghancurkan lini bisnis mereka satu persatu, dalam diam.
“Irish tau rahasia The Hydra. Dan yang paling penting, Irish punya dendam. Orang yang ditinggal sendirian selalu ingin bicara.” — P. 40
Nggak hanya harus bermain cantik, keempatnya juga harus terus saling menjaga satu sama lain. Mereka hanya punya satu sama lain. Jika salah satunya lepas, maka mereka akan kelabakan untuk membagi tim. Memberantas kegelapan memang salah satu misi mereka, tapi kalau sampai menaruhkan nyawa, apakah setimpal?


Kalau di buku pertama kita diajak mengenal geng motor, gangster, dan Hydra, para petingginya, siapa yang ada di dalamnya, dan intriknya. Kalau di buku kedua ini lebih seru lagi. Semua petinggi Hydra dan gangster Jaggermesiter, yang ternyata ada Jenderal isipol di sana. Belum lagi Gilang, Rizal, Chacha, Ilham, dan teman lainnya juga harus melakukan penyerangan secara bergerilya, karena tugas mereka tidak resmi dari Kepolisian, sehingga hal ini sedikit banyak menyulitkan mereka.

Nggak hanya Gilang dan RIzal, Riki juga ikutan membalaskan dendamnya pada Richard, partner bisnisnya. Waktu liat Riki yang berusaha ngelawan Richard, aku jadi keinget adegan di Taxi Driver 3! Seru, tapi juga ngilu.

Sepanjang membaca, aku dibawa untuk ikut bersama dengan Gilang dan Rizal dalam menyelesaikan tugas mereka. Tembakan, penculikan, pembakaran, semua ide-ide mereka untuk meringkus dan menjatuhkan Hydra. Pengkhianatan yang dilakukan oleh Hydra sendiri. Pas saling berkhianat ini, berasa lagi ikutan main Werewolf. Soalnya mereka bener-bener fragile banget. Saling curiga, saling tuduh, dan saling main belakang. Tapi tentu aja hal ini malah memudahkan Gilang dan lainnya untuk menjatuhkan mereka.


From the book…
“Irish tau rahasia The Hydra. Dan yang paling penting, Irish punya dendam. Orang yang ditinggal sendirian selalu ingin bicara.” — P. 40

“Sejak kapan lo jadi naif, Gilang? Pengkhianatan itu hal yang biasa, Gilang. Di tempat kita berdiri sekarang, saling gigit itu udah hal lumrah dan ya, gue belajar dari jenderal itu. Gue mau bersihin sampah sebelum duduk kursi yang benar, tanpa harus ngotorin tangan.” — P. 150

“Karena lo nggak akan pernah dapetin orang yang percaya sama diri lo, pengkhianat nggak pantes bersanding bareng loyalitas.” — P. 151

“Seseorang yang sudah mati, tidak akan takut dengan apapun.” — P. 204

Sunday, February 1, 2026

[REVIEW] Cinta yang Tak Bisa Dipercaya

Cinta yang Tak Bisa Dipercaya
Dadan Erlangga
Gramedia Pustaka Utama
264 Halaman

"Setiap orang pernah berbuat salah terhadap orang lain. Sebagian dari mereka merasa bersalah dan menyesalinya, sisanya mungkin belum, atau nggak sama sekali.”


B L U R B

Sejak MOS, Taya udah naksir Tezar, salah satu cowok terganteng di SMA-nya. Jadi waktu Tezar tiba-tiba nembak, Taya seneng banget!

Sayangnya cowok itu masih terlalu jauh untuk ia gapai, karena setelah mereka jadian pun, Tezar nggak mau bersentuhan dengannya. Taya jadi curiga, jangan-jangan Tezar nggak beneran suka sama dia!

Hingga pada kencan pertama, sebuah tragedi menimpa mereka dan menyuburkan kecurigaan dalam hati Taya. Perlahan semua tabir masa lalu tersingkap. Apa yang sebenarnya Tezar sembunyikan? Mungkinkah mereka menjalani cinta meski hati terus dihinggapi tanya?

- - - - - - - - - -

Cewek-cewek di SMA Cakrawala pasti setuju kalo Tezar dinominasikan sebagai cowok yang terganteng dan tidak aneh-aneh. Selama ini, dia hanya terlihat bersama kedua sahabatnya aja–Nando dan Haikal. Meskpun sering dikejar banyak cewek, hal itu nggak membuat Tezar jadi cowok yang misterius. Dia tetap menjadi cowok yang biasa aja, nggak sok cool juga.
“Realistis aja, Zar. Kamu tuh ganteng, keren, populer. Sedangkan aku...? Biasa aja, biasa banget, bahkan pasti ada yang menganggapku jelek. Kamu bisa pacaran sama cewek yang selevel sama kamu; yang cantik, keren, dan populer. Kamu nggak perlu repot-repot nyatain perasaan dan ngajakin cewek kayak aku pacaran sama kamu." — P. 26
Taya termasuk salah satu cewek yang menyukai Tezar, tapi Taya nggak pernah seekspresif cewek-cewek lain. Bahkan dia terkenal dengan sebutan pokerface. Sedatar itu. Keanehan lainnya, Tezar mendekati Taya dan mengajak dia berkencan! Kemajuan banget dong? Apalagi Taya juga nggak effort, ini namanya durian runtuh. Kencan pertama mereka nggak begitu terkesan, tapi ada kejadian aneh yang bikin Taya mikir keras, apa kejadian itu beneran apa enggak?


Kembali membaca karya kak Dadan! Jujur aku penasaran banget sama karyanya kak Dadan yang kali ini. Selain dari judulnya yang lumayan panjang, katanya ini mengangkat isu mental health, tapi pas baca awal-awal, bingung di mana mental healthnya.

Taya dan Tezar ini mengingatkanku di masa-masa sekolah. Masa seneng-senengnya ngejar cowok yang kita suka, kadang diem-diem ngasih makanan ringan gitu, kencan ke mall, nonton bioskop. Duh gemes bangettt. Awalnya aku malah mengira ini tuh cerita thriller ya. Soalnya Tezar kadang agak menyeramkan gitu. Kadang juga kukira dia ini bipolar, saking aneh dan cepet banget perubahannya.

Novel ini diambil dari dua sudut pandang, Taya dan Tezar, jadi ada beberapa kali pengulangan kejadian, dan menurutku ini sedikit mengganggu. Meskipun bisa menjelaskan posisi salah satunya, tapi mengulang-ngulang aja gitu. Alur yang dipakai di sini cukup cepat, perpindahannya cepet banget. Aku berasa kayak diajak lari sama Taya-Tezar. 

Mengangat tentang isu kesehatan mental yang mungkin buat sebagian orang tuh remeh banget. Dipegang dan dicubit, pasti beberapa orang langsung mengira, ah itu mah biasa aja, cuma dicubit. Tapi sesuatu hal yang dilakukan tanpa persetujuan kedua belah pihak, itu termasuk pelecehan. Ini yang orang kurang paham. 

Penyelesaian novel ini cukup bikin heartwarming. Dari Cinta yang Tak Bisa Dipercaya ini kita diperjelas lagi, bahwa setiap kesalahan yag kita lakukan, nggak semuanya bisa dengan mudah dapat permintaan maaf dan dilupakan gitu aja. Sekali lagi, pelecehan seksual bisa terjadi pada siapa aja, nggak terbatas perempuan dan remaja, bisa juga laki-laki dan anak kecil.


From the book...
"Realistis aja, Zar. Kamu tuh ganteng, keren, populer. Sedangkan aku...? Biasa aja, biasa banget, bahkan pasti ada yang menganggapku jelek. Kamu bisa pacaran sama cewek yang selevel sama kamu; yang cantik, keren, dan populer. Kamu nggak perlu repot-repot nyatain perasaan dan ngajakin cewek kayak aku pacaran sama kamu." — P. 26

"Jatuh cinta memang tanpa logika, tetapi bersikap realistis adalah pilihan yang bijaksana." — P. 26 to 27

"Dalam hidup, kita akan bertemu dengan orang-orang yang membuat kita nyaman dan orang-orang yang membuat kita nggak nyaman. Terkadang kita bisa memilih, tetapi ada kalanya kita nggak bisa memilih. Maka, yang harus kita lakukan adalah fokus pada hal-hal yang membuat kita senang dan nyaman." — P. 45

"Ada yang nggak beres dengan cara kerja dunia ini. Mungkin memang cewek yang lebih sering dirugikan. Tapi bukan berarti cowok bisa selalu aman dan diuntungkan.Nggak! Cowok juga ada peluang dilecehkan. Dan mirisnya, ketika cowok menjadi korban pelecehan, dunia seolah-olah menutup mata." — P. 60

"Kamu boleh peduli sama temen, sama siapa pun yang menurut kamu layak dipeduliin. Tapi, jangan sampai kepedulian itu jadi nyusahin diri sendiri dan malah melibatkan kamu dalam masalah baru. Sebaiknya kepedulianmu itu dilakukan dengan cara-cara yang lebih tenang, nggak emosional kayak tadi. Oke?" — P. 85

"Kalau soal ngelindungin seseorang dari tindak kekerasan itu nggak ada hubungannya sama gender. Cewek ataupun cowok sama-sama bisa kena kekerasan dalam bentu apa pun, dan dua-duanya punya hak untuk mendapatkan perlindungan. Jadi, ya kita harus sama-sama saling melindungi." — P. 141

"Kamu tahu? Terkadang, orang itu nggak selalu seperti yang kita pikirkan. Setiap orang punya topeng masing-masing, punya selubung sendiri-sendiri. Yang kita anggap jahat, bisa aja baik. Dan yang kita anggap baik... bisa jadi malah sebaliknya." — P. 142

"Gue percaya, di dunia ini nggak ada seorang pun yang ingin balas dendam terhadap orang-orang yang pernah menyakiti mereka. Yang mereka inginkan adalah ketenangan dan kedamaian. mereka hanya nggak tahu cara mendapakannya selain dengan membalas dendam." — P. 208

"Setiap orang pernah berbuat salah terhadap orang lain. Sebagian dari mereka merasa bersalah dan menyesalinya, sisanya mungkin belum, atau nggak sama sekali.” — P. 209

“Waktu anak lo tumbuh gede, tolong kasih tahu mereka untuk bersikap baik sama orang lain. Kasih tau mereka kalau mereka nggak berhak memperlakukan orang lain dengan kasar, semen-mena, atau melecehkan orang lain dengan alasan apa pun. Kalau mau bercanda, ada banyak cara bercanda yang memang lucu dan menyenangkan buat kedua belah pihak.” — P. 210

“Rasa takut membuat kita lebih waspada, hati-hati, dan curiga, memunculkan insecurity dan trust issue. Bisa jadi, setelah mengetahui kebenaran tentang kejadian malam itu,Taya juga mulai ngerasa nggak aman, nggak nyaman, dan nggak percaya lagi sama kamu.” — P. 213

“Harapan memang selalu ada, tapi hidup terkadang mempermainkan kita. Saya ingin kamu mempersiapkan diri menghadapi semua kemungkinan.” — P. 215



[REVIEW] It Was Until It Wasn’t

It Was Until It Wasn’t
Tipluk
Bhuana Sastra
320 Halaman

“Patah hati emang bikin manusia lupa diri, Bu. Yang bisa mengembalikan segalanya adalah ketika kamu sudah bisa merelakan kejadian itu. Tapi, sepertinya belum bisa, ya?” 


B L U R B

It was love until it wasn’t.
It was pain until it wasn’t
It was hope until it wasn’t.
It was enough until it wasn’t.
 
Dimas tenggelam dalam luka cinta pertama yang membuatnya mencari penyembuh di mana-mana. Sementara Alana justru berusaha percaya bahwa luka cinta pertama tidak akan menghalanginya menemukan cinta yang lain.
 
Luka membawa mereka bertemu sebagai President dan Producer di Pelita Jaya Radio. Dari ruang siaran itu, dua orang yang terluka berusaha menemukan bahagia dari pertemuan mereka. Namun, ada yang hanya coba-coba dan ada yang benar-benar jatuh cinta.

- - - - - - - - - -

Dimas seorang President di Pelita Jaya Radio yang dikenal Tukang Ngalus Nasional. Entah sudah berapa cewek yang jadi ‘korban’nya. Giani, Vice President-nya sudah tidak tau harus komentar apalagi saking banyaknya korban yang berjatuhan, tidak terkecuali Alana. Anak baru sekaligus ‘anak’ Giani.
“Kita cuman punya satu sama lain, Dim. Jadi, jangan nyakitin satu sama lain juga. Gue udah kasih kelonggaran, tapi yang lo lakuin di luar dari perjanjian.” — P. 189
Bagi Alana, kehidupan akan baik-baik saja, selama dia berusaha untuk berbuat baik. Alana bisa dibilang tidak punya teman dekat yang dekat sekali. Masa SMA yang cukup buruk, membuat Alana menutup diri, berprasangka buruk bila berteman.

Kali ini, Alana sudah bertekad, di masa kuliahnya ini, dia mau membuka diri dan mencari teman, tidak lagi seperti Alana yang dulu. Dengan diterimanya dia di Pelita Jaya Radio, Alana berharap dia bisa mencari dan memiliki teman. 

Tapi kalau harus dekat dan dimentori Dimas dengan segala perlakuan yang bisa bikin jantung Alana berdebar-debar, Alana harus bagaimana? Di sisi lain, Dimas juga sangat menikmati waktunya bersama Alana. Bersama Alana, semuanya seakan baik-baik saja. Tapi apa iya semuanya seperti yang diharapkannya?


Dimas Aidan, tipe cowok-cowok kuliahan yang nggak cuma ganteng, tapi mulutnya bikin kita jatuh cinta sama dia. Seperti cowok yang suka tepe-tepe, Dimas nggak pernah serius. Dia cuma butuh ditemenin aja sebenernya. Menyibukkan diri di PJR masih belum cukup untuknya.

Sampai saat kedatangan Alana, Dimas lumayan ketar-ketir, karena dia mengingatkannya sama sosok yang sedang jauh darinya. Bisa dibilang, Alana hampir mirip sama ‘dia’, yang namanya nggak boleh disebut di PJR, atau Dimas bakalan langsung sewot.

Sejak awal bab dan ketemu Dimas, aku kesel banget. Ralat. KESEL BANGET!!!! Aku nggak suka cowok yang tebar pesona soalnya. Kebanyakan dari mereka pasti player. Pasti suka main-mainin cewek. Dan bener aja, Dimas juga suka mainin cewek kan? Bahkan ada dari mereka yang sampe bete banget, bahkan mengundurkan diri dari jadwal demi nggak ketemu Dimas.

Tapi hebatnya Alana, dia bisa ‘menjinakkan’ Dimas. Nggak jinak yang bener-bener nurut sih. Tapi Dimas jadi lebih hidup aja. Ada kegiatan yang bisa membuat Dimas mengalihkan perhatiannya dari kesuntukan. Di sisi lain, Alana sebenernya juga punya luka sendiri. Kecentok sama cinta pertamanya yang bikin dia kehilangan banyak teman, bikin Alan bertekad untuk mencari teman aja. Minimal dia punya temen aja. Apalagi masa kuliah, kan masa yang lebih menyenangkan ketimbang SMA.

Selama baca, aku mencoba cari tau kenapa Dimas sebenernya, kesakitan apa yang ditinggalkan sama orang sebelumnya. Karena di bagian Alana diceritakan semua, sementara Dimas enggak. Bener-bener gemes banget deh sama Dimas.

Alur yang dipake maju mundur dan cukup lambat. Aku sempet agak capek bacanya. Plusnya menceritakan dari sisi Alana dan Dimas dari sudut pandang ketiga. Pembahasan tentang dunia radionya juga oke banget. Sangat mendetail, dan juga dijelaskan. Seru deh, kecuali Dimas. Konflik di sini cukup complicated. Nggak cuma batin, tapi juga mulut-mulut tetangga ini bikin setres kataku.


From the book…
“Ih, aku masih butuh banyak belajar, kok. Aku malah kagum banget sama kamu. Kamu itu orang paling berani yang aku kenal. Kamu nggak pernah bikin luka kamu sebagai halangan buat tetap jadi orang baik. Aku berharap aku seberani kamu, sih, Al.” — P. 38

“Nggak boleh gitu. Nanti kalo kamu mau sesuatu, kamu harus bilang. Kalo kamu nggak mau, juga harus bilang. Kamu berhak milih dan memperjuangkan, Al. Inget itu, ya?” — P. 38

“Lo ngerasa juga nggak sih, kadang kita seneng inget-inget masa lalu karena nggak suka sama masa sekarang?” — P. 76

“Raska, when you put her happiness first, that’s what is called love.” — P. 83

“Hatinya selalu merasa bahwa cinta tidak mungkin mudah untuk dia dapatkan karena sebelumnya kemudahan itu berakhir dengan perpisahan. Yang Alana kenal hanya cinta yang menyakitkan, cinta yang membuatnya berkorban dan berjuang untuk orang lain. Cinta harusnya seperti apa yang ia rasakan kepada Dimas.” — P. 104

“Kamu tuh kayak adlibs. Aku cuma kasih tanda sedikit, tapi kamu improve-nya begini banget.” — P. 105

“Sayang, pada akhirnya semua orang juga punya kehidupan masing-masing alaupun udah punya pasangan. Lo juga futsal nggak sama gue, kan? Lo freelance nggak sama gue, kan? Tapi, bukan berarti kita pisah, kan?” — P. 133 to 134

“Pak, cinta itu nggak egois. Cinta itu harusnya membawa damai dan kebaikan. Cinta itu bertemu di tengah.” — P. 135

“Kita cuman punya satu sama lain, Dim. Jadi, jangan nyakitin satu sama lain juga. Gue udah kasih kelonggaran, tapi yang lo lakuin di luar dari perjanjian.” — P. 189

“Ya, tapi gimana? Susah buat nolong orang yang nggak mau ditolong.” — P. 190

“Gimana pun Dimas itu sama Mbak RL, Al. Dan yang lo lakuin itu salah. If you can’t understand it, then I can’t help you.” — P. 197

Hurt people may hurt people, but they can choose not to. Selamanya lo nggak akan pernah sembuh kalo lo cari obatnya di orang lain.” — P. 203

I know the love is still there, but I can’t live with someone who doesn’t respect my feelings. Punya trauma dan nggak ngehargain orang lain adalah dua hal yang berbeda.” — P. 211

“Kadang luka itu nggak bisa sembuh karena kita belum bisa nerima. Nerima kalo hal buruk itu terjadi, nerima hubungannya nggak bisa bertahan lagi. Susah sih, tapi mungkin cowok lo belum sampai tahap acceptance aja.” — P. 212

If you love something, set it free. Percuma lo paksain kalo malah nyakitin. Love will always find its way, Rev.” — P. 214

“Kadang aku kayak liat aku yang dulu di Masdim. Sendu, kesepian… dan aku ngerasa nggak semua orang bisa lihat itu karena mereka selalu anggap kamu sempurna tapi suka nggak bisa berkomitmen aja. Padahal kamu cuman butuh ditemenin sama orang yang tepat. Mungkin karena kamu juga pernah kehilangan, jadi kamu lebih susah nerima orang di hidup kamu.” — P. 257

“Patah hati emang bikin manusia lupa diri, Bu. Yang bisa mengembalikan segalanya adalah ketika kamu sudah bisa merelakan kejadian itu. Tapi, sepertinya belum bisa, ya?” — P. 263

“Saya nggak mau kamu intervensi hidup Dimas lagi. Biarin aja kalo dia emang harus hidup seperti ini terus-menerus. Kamu boleh cinta, Bu, tapi nggak boleh membabi buta.” — P. 263

Monday, January 19, 2026

[REVIEW] Satu Titik

Satu Titik
Arata Kaivan
On Wattpad
274 Halaman

“Nggak ada yang perlu disesali, Ra. Kita nggak bisa ngerubah masa lalu, tapi kita bisa rubah masa depan kita.”


B L U R B

Di tengah hiruk-pikuk Tangerang Selatan, dunia remaja seringkali berbenturan dengan kekuasaan gelap yang bergerak di balik layar. Seorang pemuda misterius dengan pengaruh besar di wilayahnya, harus mempertahankan Black Ribal, gengnya, dari ancaman geng saingan dan organisasi kriminal yang lebih besar.

Di sisi lain, muncul wanita dingin dan penuh teka-teki, yang seakan selalu satu langkah di depan dan membuat Renggo sulit menebak maksudnya. Bersama mereka, kisah cinta, loyalitas, dan pengkhianatan mulai terjalin dengan rumit, menarik perhatian seorang polisi muda yang terjebak di antara tugas dan perasaan pribadinya.

Ketika The Hydra, organisasi kriminal terbesar di Indonesia, mulai bergerak dan menawarkan kekuasaan yang lebih besar, semua pilihan menjadi berisiko. Siapa yang bisa dipercaya? Siapa musuh? Dan sejauh mana seseorang bersedia mempertaruhkan segalanya demi loyalitas, cinta, dan balas dendam?

SATU TITIK adalah kisah tentang dunia kriminal Indonesia yang keras, di mana satu keputusan bisa mengubah hidup selamanya.

- - - - - - - - -

Gilang, seorang perwira polisi yang sedang menargetkan 3 ketua gangster yang menguasai wilayah Tangerang Selatan. Krugger, Renggo, Olay, tidak ada yang pernah mengetahui wajah asli ketiganya, hanya saja Gilang mengetahui daerah kekuasaan mereka.

Bagi Gilang, pemberantasan gangster ini tidak hanya sekadar memberantas kriminalitas, tapi mengingatkannya juga terhadap apa yang pernah dialami Rizal, dan Riki—sahabatnya, sekaligus Chacha—adiknya. Dalam masa perburuannya ini, dia juga sedang mencari keberadaan Rizal, salah satu sahabatnya yang baru-baru ini keluar dari jeruji besi, namun sudah tidak pernah menampakkan diri lagi.
“Ayah nggak bisa bilang tindakan kalian bener. Kekerasan itu salah. Tapi Ayah juga nggak bakal nyalahin kalian karena jagain Chacha dan sahabat kalian.” — P. 18
Satu kejadian yang menimpa Chacha membuat Gilang semakin menggila untuk memberantas ketiga gangster ini. Apalagi kalau sudah mengingat kejadian tersebut. Berbagai cara Gilang tempuh untuk mendapatkan identitas para ketua gangster. Tapi bagaimana kalau ternyata ada salah satu yang dikenalnya? Siapkah Gilang bekerja sama dan meringkus ketiga ketua gangster ini?


Akhirnya aku kembali baca novel yang cukup menegangkan begini. Berawal dari threads dan akhirnya berkenalan dengan salah satu karya yang menurutku keren banget.

Tentang persahabatan keempat sekawan yang dimulai sejak keempatnya SMA, tawuran adalah hal yang mempertemukan mereka semua. Awal pertemuan yang cukup menarik ya? Mengingat tawuran biasanya pasti antar sekolah dan belum tentu saling support kan? Di bagian awal, kita diberi sedikit clue tentang keempatnya, dan bagaimana keseharian mereka.

Aku suka penggambaran dunia gelap yang mungkin emang sebenernya kayak gitu, kan? Gimana intriknya, hijack orang terdekat musuh, sampe menemukan bahwa ternyata adik pacarnya Gilang juga bagian dari gangster itu. Aku beberapa kali menebak-nebak, dan hampir benar! Penggambaran adegan perkelahiannya juga cukup detail.

Menurutku, fokus utama di sini lebih banyak membahas dari sisi Gilang dan profesinya. Dijelaskan juga bagaimana kebimbangan Gilang. Kondisi Riki, Rizal, dan Noval juga dijelaskan di sini. Tapi sepertinya hidup Gilang, Riki, dan Rizal yang lebih dar der dor dan kompleks.

Ada beberapa hal yang menurutku aneh dan belum kutemukan jawabannya, seperti The Hydra, dan juga partner kerja Riki, yang sepertinya juga berhubungan dengan para gangster ini. Mungkinkah jawaban ini ada di buku ke dua? Jadi nggak sabar baca buku ke-duanya! 

Sunday, January 18, 2026

[REVIEW] Fit & Proper Test

Fit and Proper Test
Soraya Nasution
Elex Media Komputindo
350 Halaman

"Cuma karena aku nggak pernah mengalami itu bukan berarti aku nggak bisa mengerti apa yang kamu rasain. Aku nggak mesti jadi korban pembunuhan untuk tahu gimana rasanya dibunuh. Ngerti kamu?"


B L U R B

"Cari pasangan hidup ya nggak boleh asal. Penginnya nggak ada penyesalan dan satu untuk selamanya, kan? Disusun dong Fit and Proper Test-nya. Kriterianya harus jelas dan terukur."

Celetukan Papi waktu berkumpul di rumah Eyang terus berputar di kepala Anggun. Apalagi dia punya target menikah sebelum usia 28. Sementara usianya kini sudah 26 tahun lebih 6 bulan. Dibantu kakak sepupunya yang juga jomlo gagal move on, Anggun bertekad menyusun Fit and Proper Test dalam Mencari Pasangan Hidup Ideal.

"Kalau ternyata pasangan yang lo pilih nggak lolos tes, sementara lo udah cinta sama dia gimana, Nggun?"

"Basically, perasaan itu yang ngontrol otak, Mas. Gimana lo cinta sama orang yang nggak memenuhi kriteria lo? Nggak mungkin!"

- - - - - - - - - -

Anggun sering bertanya-tanya, bagaimana cara mencari pasangan yang sesuai dengan kriterianya dan bisa diterima keluarga besarnya juga. Mengingat keluarga besarnya suka berkumpul dan melakukan kegiatan bersama, tentu saja pasangan yang bisa diterima sesuai dengan bibit, bebet dan bobot sangat menentukan, kan?
"Segala sesuatu yang dilakukan dengan terburu-buru hasilnya sering nggak baik, Nggun. Apalagi pernikahan." — P. 134
Sayangnya, sampai saat ini, Anggun masih belum juga menemukan pasangan sesuai kriterianya. Walaupun saat ini dia sedang menjalin hubungan, tapi Anggun ragu membawanya ke pertemuan keluarga. Sementara Ryan—kakak sepupunya juga jomlo. Memangnya mencari pasangan hidup perlu sedetail itu kah? Bukannya yang paling penting adalah perasaan satu sama lain dan finansial aja cukup?


Membaca Fit and Proper Test ini aku kira bakalan berat banget. Ternyata seringam itu. Permasalahan kapan kawin dan jodoh ini biasa kita alami kan? Apalagi buat anak line 90an. Kumpul keluarga, selain mendekatkan yang jauh, tapi juga bakalan mengumpulkan banyak pertanyaan. Yang belum nikah ditanyain kapan kawin, yang udah kawin kapan punya anak, yang udah punya anak kapan nambah. Udah jadi rentetan pertanyaan yang nggak ada habisnya.

Sama seperti Anggun dan Ryan, mereka juga mau kok segera menemukan pendamping hidup. Sayangnya, mencari pasangan hidup itu susah-susah gampang. Kadang ada yang sekali ketemu langsung klik, ada yang perlu cari-cari dulu. Dan aku juga kurang setuju sama papanya Anggun sih, karena cari pasangan itu nggak ada pakemnya, dan cara satu orang mencari pasangan tuh nggak bisa disamain sama yang lainnya. Nanti malah stres sendiri karena nggak dapet-dapet.

Selama membaca tuh aku suka banget interaksi antara Anggun dengan orangtuanya dan juga Ryan. Enak memang ya kalau punya kakak, meskipun cuma sepupu, tapi bisa diajak ngomong dan diskusi. Langka banget yang beginian. Aku sama sepupuku juga sama sih, tapi seputar kesehatan aja karena mereka dokter. Kalo love life mah enggak. Masuk ranah privasi.

Sangat aku rekomendasikan untuk baca, karena selain bahasanya ringan, lebih memperluas pemikiran juga kalau untuk memilih pasangan!


From the book...
"Nyari pasangan potensial lebih susah daripada ngitungin energi potensial pas zaman SMA ya, Nggun." — P. 6

"Menurut lo, seorang cowok atau cewek pantas disebut calon pasangan hidup potensial kalau punya berapa persentase sifat baik? 50 40? 70 30?" — P. 11

"Memilih calon istri itu bukan sekadar dia cantik, menarik, jalan beberapa bulan terus kamu lamar. Kamu harus melakukan serangkaian fit and proper test untuk mendapatkan calon istri yang potensial." — P. 25

"Gue nggak mesti sampe background keluarga, sih. Kita, kan, nggak bisa milih dilahirkan dari keluarga yang bagaimana. Tapi gue tambah gimana cara dia berkomunikasi sama orang lain. Itu yang paling penting." — P. 33

"Segala sesuatu yang dilakukan dengan terburu-buru hasilnya sering nggak baik, Nggun. Apalagi pernikahan." — P. 134

"Setiap orang kayaknya punya strong dan weak points-nya masing-masing deh. Banyak juga kok yang bisa disukai dari kamu. Kamu setia kawan, full of surprise, jago dandan, stylish, asyik diajak ngobrol karena kamu nggak berisik. I love to talk to you all the time." — P. 183

"Kayak yang Om selalu ingatkan ke kalian, pinter-pinter dalam memilih pasangan. Jangan gegabah. Semuanya harus fully checked. Mungkin kalian juga bosan mendengarnya. Usia kalian bukan usia untuk main-main lagi. Walaupun begitu, tetap harus dipilih yang paling baik. Toh untuk masa depan kalian juga." — P. 188

"Kamu memang benar. Tapi nggak ada salahnya mencari yang terbaik, kan? Kamu masa lupa soal bibit, bebet, bobot yang pernah Papi kasih tahu ke kamu dan Ryan. Bibit bebet bobot itu penting untuk menentukan kualitas keturunan, Sayang. Kalau ayahnya kayak gitu, kan nggak menutup kemungkinan anaknya juga kayak gitu." — P. 204

"Cuma karena aku nggak pernah mengalami itu bukan berarti aku nggak bisa mengerti apa yang kamu rasain. Aku nggak mesti jadi korban pembunuhan untuk tahu gimana rasanya dibunuh. Ngerti kamu?" — P. 283

"Lo terlalu terpaku sama hasilnya, Nggun. Sampai lo ngelupain proses dari penjajakan ini. Yang ada di kepala lo cuma ini cowok skornya harus sekian, harus memenuhi semua target. Padahal untuk ngedapetin itu lo harus menjalani pendekatan itu, kan? Selama proses fit and propert test itu, secara nggak langsung lo ‘dipaksa’ untuk lebih peka sama gerak-gerik seseorang, berusaha untuk tahu apa sih maunya dia, serius nggak sih dia sama lo. It’s such a big learning, Anggun.” — P. 332

“Aku juga ngambil banyak hikmah dari kejadian ini kok, Pra. Ternyata kadang apa yang aku susun nggak selalu terjadi sesuai rencana. Ternyata standar aku terhadap menilai sesuatu itu bisa saja nggak terpenuhi. Ternyata toleransiku terhadap beberapa hal harus lebih dilonggarkan.” — P. 341


Sunday, January 11, 2026

[REVIEW] How To Be Popular in High School

How To Be Popular in High School
Reytia
Bhuana Sastra
222 Halaman

"Bantu kami satu hal ini sana. Bantu kami dengan berpikir sebelum bertindak. Bantu kami dengan berbuat baik, bahkan kepada orang yang menurut kalian enggak selevel dengan kalian. Hal-hal yang menurut kalian sepele, bisa jadi besar untuk orang lain.”


B L U R B

Isa yang dulu cupu dan terkucil saat SMP men­coba peruntungannya di SMA 743. Tujuannya satu: men­jadi cewek populer! Ia pun mendaftar di ekskul dance, tempat para cewek populer dan elite ber­kumpul. Namun, sialnya, Lexy, si ratu sekolah yang dulu mengucilkannya saat SMP, juga men­daftar di ekskul yang sama. Ditambah lagi ekskul dance terkenal dengan ploncoannya yang gila-gilaan.

Namun, Isa pantang menyerah! Ia bertekad membuktikan bahwa dirinya juga layak diper­tim­bangkan dalam jajaran cewek populer di sekolah. Mulai dari tampil di depan senior, sampai pasang muka manis walau hati gondok berat. Bisakah Isa memanjat dinding terjal menuju popularitas?

- - - - - - - - - -


Banyak yang bilang, kehidupan masa SMA tuh masa-masa yang menyenangkan. Masa yang harus banget dinikmati, apalagi umur pas SMA tuh pas banget lagi nakal-nakalnya, jatuh cinta yang kerasa beneran, nggak lagi disebut cinta monyet.

Isa juga punya tekad yang sama. Memilih nggak melanjutkan sekolah di yayasan yang sama, bahkan sampe merubah potongan rambutnya, merombak gayanya habis-habisan supaya bisa populer. Tujuannya jadi anak populer. Nggak dikucilkan lagi.
“Perbuatan buruk orang lain ke lo bukan hal yang bisa lo kendalikan, tapi bersikap sopan adalah sesuatu yang sangat bisa lo kendalikan.”— P. 80
Sayangnya, nggak demikian, berawal dari temen sebangku yang nggak keren-keren amat, teman belakang bangkunya yang kadang judes. Tapi tetep nggak menyurutkan keinginannya untuk jadi populer. Dia bisa aja masuk ke ekskul dance, dengan segala risiko peloncoannya yang aneh-aneh. Hanya saja, mimpi buruknya bener-bener tiba. Lexy, mimpi buruknya semasa SMP datang dan masuk di ekskul yang sama. Bisakah kali ini Isa menjadi populer seperti keinginannya dulu?


Membaca How to Be Popular in High School mengingatkanku di masa-masa SMA. Sama seperti Isa, aku juga mau kumpul jadi anak populer lho. Sudah bertekad kalau bakalan mencari teman baru di SMA, dan jadi anak keren. Tapi nyatanya, aku juga kumpulnya sama anak yang biasa-biasa aja, bukan anak basket, dance atau anak band. Ya gimana ya, aku juga sadar diri, pas SMA tuh aku masih jadi anak alay gitu deh. Cuma hobinya haha hihi sana sini.

Pernah dibully di SMP, kehidupan orangtua yang biasa aja, tentu ini cukup membuat Isa bimbang. Haruskah kayak begini dilaporkan ke orangtuanya? Harusnya kan nggak perlu, sudah cukup mereka bekerja keras aja kan?

Pas baca momen Isa masuk SMA dan mengambil jarak dari Tari, Nanda, dan Olen, aku agak kecewa sih. Karena nggak beda dong Isa dengan teman-temannya dulu? Nggak potensial untuk bikin dia populer kan nggak berarti harus diberi jarak? Lagian nyari temen populer kayaknya juga nggak segampang itu deh. Mendingan membaur ke banyak orang, kan?

Momen perploncoan itu bener-bener ngegambarin masa-masa SMAku dulu deh. Pas baca aku langsung berasa balik ke jaman OSPEK dan cari-cari ekskul. Paham banget sih gimana ditatarnya anak dance tuh. Soalnya memang butuh stamina yang kuat kan? Tapi Galactic agak keterlaluan sih.

Tokoh favoritku di sini adalah Olen, soalnya dia mirip aku banget. Kalo ngomong nyeplos, padahal niatnya baik. Hehe. Yang kedua, Vanya, sebagai senior, dia nggak memakai senioritas untuk melakukan plonco hal-hal yang nggak berguna. Love banget! Malahan dia selalu ngebela Isa, ngebantuin dia kalo memang ada kesulitan. Terakhir ada Galang, baik banget ini orang ya. Tegas banget, bener-bener menjalankan perannya sebagai anak MPK dengan baik. 

Last, suka sekali baca How to Be Popular in High School ini. Selain ceritanya deket sama kita secara konflik, bahasanya juga enak banget, mengalir. Aku berhasil baca ini dua jam aja. Seru banget soalnya. Jadi kepengen baca tulisan kak Reytia yang lain.


From the book…
“Dunia orang-orang sukses itu keras. Jika seseorang sudah tidak berguna, ia akan dibuang dan dijatuhkan. Ia harus selalu waspada dan memiliki banyak teman yang bisa membantu saat kesulitan.” — P. 32

“Lagi pula, hidup adalah tentang uang dan kekuasaan.” — P. 32

“Gue ngerti sih jadi anak yang populer itu emang asik. Tapi, buat jadi populer enggak harus lewat ekskul ini juga bisa, kali. Emang enggak ada cara lain, apa. Daripada lo di sini ditinggal-tinggal enggak jelas terus, mending lo cari tempat lain yang orangnya lebih waras enggak, sih?” — P. 76

“Perbuatan buruk orang lain ke lo bukan hal yang bisa lo kendalikan, tapi bersikap sopan adalah sesuatu yang sangat bisa lo kendalikan.” — P. 80

“Gue enggak suka orang yang menyisihkan orang lain. Termasuk orang-orang yang memakai identitas eksklusif di sekolah, itu gue juga enggak suka. Biar apa sih? Biar keliatan kebih keren daripada anak-anak lainnya?” — P. 87

“Bantu kami satu hal ini sana. Bantu kami dengan berpikir sebelum bertindak. Bantu kami dengan berbuat baik, bahkan kepada orang yang menurut kalian enggak selevel dengan kalian. Hal-hal yang menurut kalian sepele, bisa jadi besar untuk orang lain.” — P. 114

“Lo itu orang baik, Isandra. Apa yang membuat lo berpikir kalau lo enggak layak mendapatkan teman yang baik?” — P. 144

“Bukannya lebih serem kalau kita enggak punya sikap cuma untuk disukai sama orang lain, ya? Semakin kita punya sikap, semakin besar kemungkinan kita enggak disukai orang lain, dan gue udah siap. Harus ada yang berubah dari keadaan sekolah ini, Sa.” — P. 157

“Obrolannya dengan Galang menyadarkan Isa bahwa ia masih punya banyak pilihan panggung untuk tempatnya bersinar. Untuk menuju ke sana, ia hanya perlu mulai dari satu hal: mencintai dirinya apa adanya.” — P. 166

Saturday, January 3, 2026

[REVIEW] Uang Gawat Darurat

Uang Gawat Darurat
Adrindia Ryandisza
Elex Media Computindo
224 Halaman

"Cape, Bu. Aku bukannya nggak mau bantu keluarga, tapi aku cape kalau buat menuhin keperluan sendiri aja harus mikir banyak.” 


B L U R B

“APA YANG LEBIH GAWAT DARI DIJADIKAN KONTAK DARURAT TANPA IZIN?”
“NGGAK PUNYA UANG GAWAT DARURAT!”

Indy bekerja sebagai funding officer, tipikal budak korporat ibu kota dengan goal finansial: ingin punya uang gawat darurat. Mirisnya, setiap mengumpulkan dana untuk keperluan darurat, ada saja kebutuhan yang tiba-tiba muncul. Bukan hanya kebutuhannya saja, tetapi juga seluruh anggota rumah: ayahnya, ibunya, dan terutama, adiknya yang pengangguran.

Untungnya, Indy punya sahabat sepenanggungan. Bayu, seorang staf IT yang sedang berjuang keras menabung untuk menikah. Tepatnya, untuk biaya pernikahan kakak perempuannya yang ditakutkan akan menjadi perawan tua. Apakah mereka bisa keluar dari peliknya masalah finansial yang sering dihadapi generasi masa kini?

- - - - - - - - - -

Hidup sebagai anak pertama dengan kondisi keluarga yang kurang, membuat Indy mau nggak mau ikut menanggung kehidupan orangtua beserta adiknya yang saat ini masih belum mendapatkan pekerjaan. Selama ini Indy ngerasa baik-baik aja, meskipun uang untuk dana daruratnya mepet banget. Indy masih berusaha mencari berbagai cara untuk menambah penghasilannya, dia juga sering melihat video di Youtube bagaimana cara memperbanyak uangnya yang tidak seberapa ini.
“Menikah bukan hanya soal keinginan, tetapi juga ada kebutuhan yang perlu dipenuhi sebelum memutuskan melakukannya. Prioritasnya saat ini bukan untuk menikah, melainkan memapankan diri.” — P. 112
Bayu, tetangga sebelah sekaligus sekutu Indy sejak SMA pun ternyata punya masalah yang mirip, malah lebih parah menurutku. Dia ikut menanggung biaya pernikahan kakaknya. Belum lagi, persiapan pernikahan kakaknya ini banyak banget percek-cokan yang terjadi. Mau pecah rasanya kepala Bayu.

Bagi Indy, dia beruntung punya Bayu, nggak cuma jadi temen yang bisa diajak haha-hihi, tapi juga bisa diajak curhat dan bertukar pikiran. Kira-kira mereka bakalan punya pekerjaan tambahan nggak ya, supaya bisa memperbaiki kondisi keuangan mereka?


Di masa sekarang ini, punya dana darurat itu kayaknya keharusan deh. Bukan menjadi opsi menabung lainnya. Dari sejauh yang aku tau, katanya dana darurat ini harusnya 3x gaji. Ada yang bilang 6x gaji, kembali ke kebutuhan masing-masing. Apalagi kalau sudah ada keluarga dan anak ya, harus banget kayaknya ada dana darurat. Karena kita gatau apa yang terjadi ke depannya.

Membaca kisah Indy-Bayu ini gemes-gemes gimanaa gitu. Indy sebenernya bukan dari keluarga yang berkekurangan kok. Sebelumnya dia berkecukupan, tapi karena ayahnya yang kena PHK, jadi kehidupannya sedikit terguncang. Pas di bagian Indy dengan Rika, adiknya, aku sangat memahami banget. Adik nggak kerja, keliatannya di rumah terus tuh jadi sumpek yang liat. Apalagi Indy pergi pagi, pulang capek. Bela-belain menghemat di sana sini, tapi Rika malah di rumah aja. Begitu disindir, ngamuk pula. Capek banget.

Sementara kisah Bayu lebih nyesek lagi, ngumpulin biaya pernikahan, tapi buat kakaknya. Pas awal aku baca, aku juga kesel banget sih. Masa kakaknya yang mau nikah, tapi adiknya ikutan kepikiran juga? Bukannya nikah ya harusnya tanggungan yang bersangkutan aja ya?

Tokoh yang aku suka tuh malahan Bayu. Tipe cowok pada umumnya yang komen secukupnya aja, tapi pas action keren banget!! Dia ini juga tipe temen yang cukup seru untuk diajak cerita, bisa ngasih feedback nggak cuma diem aja gitu.

Novel ini relate banget sih sama masa sekarang yang sandwich generation, hidup serba sulit. Terjebak di antara dua pilihan, menyenangkan diri sendiri atau orang lain. Seperti biasa, novel kak Adrin ini nggak tebal, tapi isinya padet banget. Mantep. 


From the book…
“Gue tuh nggak perlu sampai harus jalan-jalan ke Bali atau pakai tas bermerek, gue cuma kepengin uang lebih banyak buat tabungan gue dibanding dana darurat.” — P. 3

“Permasalahan uang adalah sesuatu yang sangat sensitif. Pertemanan bisa rusak karena masalah utang piutang.” — P. 16

“Kalau Ibu, nggak mau kamu nikah tapi malah belum siap. Ya, meski Ibu sama Ayah pas-pasan banget menuhin kebutuhan kamu dan belum bisa nyiapin uang nikahan anak sama sekali, tapi Ibu tetap pengin yang terbaik buat kamu. Ibu nggak mau kamu nikah, tapi malah jadi susah. Nikah kan ibadah, bukan uji nyali.” — P. 23

“Aku tahu Mbak Alia nggak minta saranku, tapi aku mau tetap ngomong. Mbak Alia nggak perlu menurunkan standar. Jangan sampai nanti suaminya masih nggak stabil emosinya. Tapi aku juga ngerti kalau tuntutan keluarga itu berat.” — P. 94

“Menikah bukan hanya soal keinginan, tetapi juga ada kebutuhan yang perlu dipenuhi sebelum memutuskan melakukannya. Prioritasnya saat ini bukan untuk menikah, melainkan memapankan diri.” — P. 112

“Pengetahuan gue tentang nikah mungkin sedikit. Tapi lo tahu nggak, apa yang menurut gue lebih menakutkan dari menikah saat belum siap? Nikah dengan orang yang salah. Gue takut itu.” — P. 114

“Iya. Kebiasaan banget ya, nikah dijadiin lomba cepat-cepat. Jangan sampai aja cepat-cepat cerai jadi tren lomba baru.” — P. 131

“Cape, Bu. Aku bukannya nggak mau bantu keluarga, tapi aku cape kalau buat menuhin keperluan sendiri aja harus mikir banyak.” — P. 190

“Tapi gue mikir kalau pernikahan itu tentang berkompromi dan cari solusi bareng-bareng, gue rasa untuk ke jenjang itu, gue udah bisa bayangin lo, Yu. Cuma nggak langsung nikah kayak yang lo mau. Kita butuh persiapan dan rencana. Kayak nanti tinggalnya gimana, atur keuangannya gimana. Belum kalau nanti pelukan atau mesra-mesraan.” — P. 213

Friday, January 2, 2026

[REVIEW] Sejauh Rindu Mencari Pulang

Sejauh Rindu Mencari Pulang
Sefryana Khairil
Penerbit Clover
314 Halaman

“Mungkin… biar kita enggak egois, Ta. Enggak selamanya semua berjalan seperti yang kita mau.”


B L U R B

Fayrani menjalani hubungan serius dengan Genta, seorang pria penuh dedikasi yang menyayangi keluarganya di atas segalanya. Namun, hubungan mereka berubah drastis setelah Genta mengalami kecelakaan mobil yang merenggut nyawa kakaknya, Gamal.

Genta, yang saat itu menjadi pengemudi, merasa bersalah dan menanggung beban untuk menjaga Sandra, istri Gamal, serta ketiga anak mereka. Sandra yang kehilangan suami dan harus membesarkan tiga anak sendirian bergantung sepenuhnya kepada Genta.

Fayrani berusaha memahami keputusan Genta, tetapi keberadaan Sandra dalam kehidupan Genta membuatnya merasa tidak lagi memiliki tempat di hati pria itu. Haruskah dirinya menyerah dan pergi atau mempertahankan hubungan mereka yang terombang-ambing di antara cinta, pengorbanan, dan rasa bersalah?

- - - - - - - - -

Pernah menjalin hubungan lama, ketika putus tuh pasti masih ada yang bikin nyesek ya. Mau putusnya baik-baik, ataupun nggak baik, kurasa efeknya sama aja. Kehilangan yang mendalam. Sejak enam bulan lalu pasca putusnya Fayrani dengan Genta, mereka kembali dipertemukan lewat kantor Gegas Gesit. Genta menjadi anak baru di sana.

Bagi Fayrani dan Genta hal ini tentu saja nggak mudah, dua orang yang pernah menjalin hubungan, putus, dan kemudian harus berhubungan lagi tiap hari, walaupun untuk profesional, pasti tetap ada yang mengganjal.
“Gue juga punya banyak mimpi, dulu gue pikir gue akan tetap di sini, berkarir bersama kalian, terus maju dengan semuanya. Tapi setelah banyak hal terjadi dalam hidup gue, gue sadar bahwa terkadang kita harus melepaskan apa yang kita anggap sebagai mimpi, untuk menjalani tanggung jawab yang lebih besar.” — P. 284
Bagi Genta, pertemuannya dengan Fayrani mungkin adalah kesempatan kedua dari semesta. Mungkin mereka masih bisa bersama seperti dulu, merajut mimpi mereka perlahan-lahan, seperti bayangan mereka dulu. Di sisi lain, Genta juga punya tanggung jawab besar akibat kecelakaan yang terjadi padanya dulu. 

Kembali membaca karya kak Sefryana, kalau sebelumnya Coming Home dengan sebuah kasus perselingkuhan yang buatku nggak bisa diterima, kali ini Genta dengan tanggung jawabnya yang cukup besar.

Kecelakaan yang terjadi karena kelalaiannya, membuat Genta merasa bersalah, apalagi keluarganya juga belum bisa menerima kepergian kakaknya yang saat itu bersamanya. Pun dengan Genta, beberapa kali dia bermimpi tentang kecelakaan yang pernah dialaminya. Ini sebenernya beban tersendiri buat Genta. Belum lagi, dia juga menghidupi Sandra, iparnya dan tiga keponakannya.

Menurutku, permasalahan Genta di sini tuh rumit banget. Sendirian, nggak cuma menanggung beban mental tapi juga finansial. Sementara sisi Fayrani, menurutku dia juga nggak sepenuhnya salah. Dalam masa pacaran tentu nggak harus jadi prioritas terus, tapi kalau jadi pihak yang terus disuruh mengalah, capek juga kan?

Mengambil sudut pandangan ketiga dari sisi Genta dan Fayrani, aku merasa bisa menyelami sisi keduanya. Genta yang selalu bimbang dan ragu karena takut keputusannya kali ini salah lagi. Fayrani yang kembali bimbang dengan segala sikap Genta.

Sepanjang membaca,  aku juga diajak kebingungan harus memprioritaskan siapa Sandra, atau Fayrani? Apalagi kita juga diceritakan secara flashback tentang masa lalu mereka berdua. Jadi bener-bener di sini ngerasain banget gimana Genta berusaha menerima semuanya, termasuk kehilangan kakaknya, Gamal. Belum lagi perlakuan orang tuanya, tanggung jawabnya sama Sandra, perasaannya sama Fayrani.

Buatku, membaca Sejauh Rindu Mencari Pulang nggak cuma tentang kehilangan, tapi bagaimana akhirnya bisa menerima kehilangan itu. Ikhlas itu susah sekali, apalagi kalau tentang kehilangan, tapi hidup terus berjalan, nggak selamanya kita harus berhenti dan berputar di sana terus, kan?


From the book…
“Hari itu, dia menyadari bahwa kadang, cinta harus berakhir bukan karena hilang, melainkan karena mereka harus melepaskan.” — P. 27

“Seharusnya kamu enggak lupa, Ta. Saat kita putus, berarti kita bebas mau bersama orang lain. Jadi, kamu enggak perlu merasa menjelaskan apa pun ke aku.” — P. 121

“Mungkin… biar kita enggak egois, Ta. Enggak selamanya semua berjalan seperti yang kita mau.” — P. 145

“Satu hal yang aku pelajari, menjadi ibu adalah proses. Kamu enggak harus sempurna, cukup kasih cinta yang tulus.” — P. 156

“Kamu enggak pernah kepikiran buat kasih dia kesempatan lagi? Kadang, orang tuh butuh waktu buat bener-bener ngerti perasaannya sendiri, Fay.” — P. 173

“Mas, lo juga punya hak buat bahagia. Jangan sampe janji itu jadi penjara buat hidup lo sendiri. Lo harus yakin, Mas, kalau ini yang bener-bener lo mau.” — P. 189