Friday, March 26, 2021

[Review] Sengkarut

 

Judul : Sengkarut

Penulis : Natsume Soseki; Edogawa Ranpo; Kajii Motojiro; Ogawa Mimei

Penerjemah : Asri Pratiwi Wulandari; Armania Bawon Kresnamurti; Mega Dian P.

Tebal : 96 Halaman



B L U R B
 
Sengkarut adalah sekumpulan cerita pendek karya penulis-penulis besar Jepang pada masanya, mulai dari cerita yang membuai hingga mencekam.

"Malaikat Permen Cokelat" karya Ogawa Mimei mengajakmu ke dalam perjalanan manis dan pahit sesosok malaikat di bungkus permen cokelat.

"Suara Misterius" karya Natsume Soseki memperkenalkanmu kepada seorang laki-laki yang mendengar suara aneh kala dirawat di rumah sakit.

"Kursi Manusia" dan "Rumput Racun" karya Edogawa Ranpo akan membawamu ke dunia yang menyesatkan.

Kajii Motojiro sang cerpenis puitis, mungkin akan membujukmu menaruh "Lemon" ditumpukan buku, juga menggali tragedi di bawah keindahan pohon sakura lewat "Di Bawah Pohon Sakura".

Enam karya, empat penulis besar.
Selamat datang di dunia serba Sengkarut.

- - - - - - - - -
 
Karena ini formatnya kumpulan cerita, jadi aku mau share bagaimana pengalamanku selama membaca aja ya. Hihi.. Buku ini merupakan salah satu buku giveaway dari salah satu olshop buku. Penting-penting nggak penting banget buat dikasih tau ya? Tapi selain itu, buku ini juga sempat rame diperbincangkan loh. Aku kira, ini tuh novel yang tebel gitu, tapi ternyata tipis. Hehe.. Kurang dari seratus halaman isinya.

Menurutku pribadi, cerita-cerita di dalam sini itu unik banget. Membahas hal-hal yang kadang kita pertanyakan, tapi nggak pernah kita suarakan. Di cerita "Malaikat Permen Cokelat" misalnya, menceritakan perjalanan malaikat di bungkus permen. Nggak pernah kebayang kan? Ternyata mereka juga pengen bebas lho. Pengen tau apa yang terjadi di dunia sana. Ya kayak Nemo di Finding Nemo gitu lah guys

Penggunaan bahasa di sini juga cukup kaku menurutku, banyak menggunakan diksi baru, yang aku nggak tahu. Atau sebenernya memang sudah ada, aku aja yang kurang jauh pergaulannya. Hehehe.. Belum lagi ceritanya menurutku cukup serius. Hihi.. Kadang aku beberapa kali baca ulang supaya paham maksudnya.

Cerita yang palingggg berkesan adalah "Kursi Manusia". Awalnya aku bakalan mikir kalau cerita ini bakalan horor banget, atau creepy yang gimana gitu. Tapi nyatanya enggak! Ceritanya menarikkkkk banget. Nggak bakalan ada yang mikirin hal itu malah menurutku, atau mungkin hal ini pernah terpikirkan sewaktu kecil ya. Jujur aja, aku nggak tahu, ini setting ceritanya kapan, jadi aku sempat mempertanyakan apa iya nggak ada CCTV di masa itu? Sampai-sampai ada orang yang 'menyelinap' mereka nggak tau?

So far, aku sangat menikmati banget cerita ini. Kadang senyum-senyum sendiri di setiap cerita yang kadang juga muncul pertanyaan di otakku, atau pemikiran aneh yang sama denganku.

Monday, March 22, 2021

[Review] Walking After You

 
Judul : Walking After You

Penulis : Windry Ramadhina

Penerbit : Gagas Media

Tebal : 320 Halaman

"Bukan melupakan, An. Menerima. Berusahalah memaafkan dirimu."


B L U R B

Masa lalu akan tetap ada.
Kau tak perlu terlalu lama terjebak di dalamnya.

Pada kisah ini, kau akan bertemu An.
Perempuan dengan tawa renyah itu sudah lama tak bisa keluar dari masa lalu. Ia menyimpan rindu, yang membuatnya semakin kehilangan tawa setiap waktu.
Membuatnya menyalahkan doa-doa yang terbang ke langit.
Doa-doa yang lupa kembali kepadanya.

An tahu, seharusnya ia tinggalkan kisah sedih itu sejak berhari-hari lalu. Namun, ia masih saja di tempat yang sama. Bersama impian yang ternyata tak mampu ia jalani sendiri, tetapi tak bisa pula ia lepaskan.

Pernahkah kau merasa seperti itu?
Tak bisa menyalahkan siapa-siapa, kecuali hatimu yang tak lagi bahagia.
Pernahkah kau merasa seperti itu?
Saat cinta menyapa, kau memilih berpaling karena takut bertemu luka?

Mungkin, kisah An seperti kisahmu.
Diam-diam, doa yang sama masih kau tunggu.

 - - - - - - - - - -

Anise, atau yang biasa dipanggil An, hobinya membuat pasta. Cita-citanya memiliki trattoria sendiri bersama dengan saudara kembarnya, Arlett. Mereka berdua menyukai hal yang berbeda. An menyukai masakan, dan Arlett menyukai kue. Tapi kemana pun An pergi, Arlett akan dengan senang hati mengikutinya. Bahkan mereka berdua sudah mulai bekerja untuk mewujudkan keinginan An memiliki trattoria. Ya, Arlett mendukung hal itu seratus persen.
"Siapa bilang kau tidak butuh asisten? Bisnis kita semakin besar, Julian. Aku tahu beberapa bulan terakhir ini kau kewalahan." P. 13
Mendadak, An bekerja di Afternoon Tea, sebuah toko kue milik sepupunya. Dia bekerja untuk menebus rasa bersalahnya. Tapi bagaimana caranya dia bisa melakukan itu kalau basicnya aja bukan pastry atau kue? Belum lagi Julian, salah satu koki di sana, membuat An tidak nyaman karena sikapnya yang cukup individual dan perfeksionis. Apalagi pas ngelihat An yang nol besar masalah beginian. Apa bisa An bertahan di sana? Memang rasa bersalah apa yang membuatnya banting setir ke kue?


R E V I E W

Membaca cerita An awalnya membuatku bingung, karena tiba-tiba menceritakan bagaimana An dan Arlett dulunya, bingung juga dengan rasa bersalah An, dan mana Arlett?! Selalu diceritakan Arlett, tapi dia nggak pernah muncul. Akhirnya pertanyaan ini terjawab juga di bagian mendekati akhir.

Sesuai dengan tagline di cover novel, "Kau tak perlu melupakan masa lalu. Kau hanya perlu menerimanya." Seringkali, kita tuh berusaha untuk melupakan sesuatu, atau kesalahan kita, atau bisa juga kejadian di masa lalu yang nggak mengenakkan. Hal ini kemudian yang bakalan bikin kita jadi punya permisalan. Misalnya dulu aku nggak begini, misalnya dulu aku lebih mendengarkan ini. Akan selalu banyak kalau, misalnya, dan perandaian lainnya, yang kemudian mikir bahwa kita ini selalu salah ngambil keputusan. Padahal, ada cara lain selain denial kayak gitu, yaitu menerimanya. Susah, tapi bikin kita lega.

Entah kenapa, tulisan kak Windry ini selalu bisa ya buat aku seolah-olah aku nemenin An, mengikuti sikapnya yang menyenangkan, apalagi kesotoyannya dia ini bener-bener ya. Mana dia nggak punya rasa takut sama Julian kayaknya. Mau dijutekin Julian, disuruh pergi dari dapurnya, bahkan sampai makan kue buatan Julian padahal dilarang, dia juga nggak ada takut-takutnya. Di sini kita juga bertemu dengan Ayu dari London dan Angel in The Rain lho! Hihi.. Ini suprise banget sih buatku.

Untuk alurnya sendiri maju mundur, menceritakan bagaimana An dan Arlett dulu, bagaimana hubungan mereka berdua, hingga alasan kenapa Arlett tidak muncul selama ini. Aku suka, cerita ini ditutup dengan manis. Suka gimana An berusaha kuat untuk menerima semuanya, dimulai dari dirinya sendiri dan keluarganya. Ya, meskipun harus dipancing dengan sedikit kekacauan. Tapi aku puas sekali. Jadi kangen baca tulisan kak Windry yang lain. Hihi..


Quotable:
"Kata Arlett, pelangi adalah janji alam bahwa masa buruk telah berlalu dan masa depan akan baik-baik saja." P. 274

"Untuk melepaskan masa lalu, yang harus kulakukan bukan melupakannya, melainkan menerimanya. Dengen menerima, aku punya kesempatan untuk belajar memaafkan diri sendiri. Aku tidak berkata ini mudah. Dan, ini akan butuh waktu. Tetapi, pada saatnya nanti, aku akan terbebas dari semua beban yang menekanku selama ini." P. 293