Saturday, January 20, 2024

[REVIEW] Lara Rasa

Lara Rasa

Nureesh Vhalega

Elex Media Komputindo

224 Halaman

"Ya, penerimaan. Bukan memaafkan, berdamai, atau menyembuhkan luka. Jawabannya adalah... aku harus belajar menerima."


B L U R B

Di usia 28 tahun, Alara masih belum punya pekerjaan tetap, kondisi finansialnya memprihatinkan, dan target memiliki rumah sekaligus menikah sebelum berumut 30 terasa kian jauh dari jangkauan. Parahnya, dia justru membuat keputusan-keputusan salah dan memperumit hidupnya sendiri. Mulai dari bekerja di perusahaan rintisan yang membuatnya seakan kerja rodi, terlibat dalam drama percintaan yang videonya viral, sampai bertengkar hebat dengan orangtua.

Alara harus mengurai permasalahannya dan mencari solusi agar hidupnya kembali berjalan normal. Dan, di atas segalanya, agar target hidupnya tercapai.

- - - - - - - - 

Alara sudah menargetkan hidupnya, bahwa dia akan menikah sebelum berumur tiga puluh tahun, memiliki pekerjaan tetap, dan punya rumah sendiri. Dia sudah muak hidup dengan kedua orangtuanya. Sayangnya, sampai di umur dua puluh delapan, Alara masih tinggal dengan orangtuanya, dan baru saja pindah ke kantor barunya. Tabungan untuk punya rumah? Jangan harap. Masih perlu menabung sampai puluhan tahun ke depan untuk membeli rumah.

Kantor barunya, tidak senyaman dan semenyenangkan kantor lamanya. Pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh tiga sampai empat orang, di sini hanya Lara yang mengerjakan. Dia sudah nggak betah, tapi apa mau di kata? Dia masih harus melanjutkan tabungan untuk impiannya.
"Lihat sisi bagusnya, Al. Lo sekarang kerja di startup yang berhubungan sama banyak artis. Siapa tahu ketemu jodoh pas ngurus proyek nanti."
Ngomongin jodoh, Alara sampai saat ini juga masih belum menemukan sosok yang cocok untuk menemaninya. Perkawinan teman sekolahnya, membuat Alara menemukan kembali Putra. Satu-satunya laki-laki yang cukup dekat dengannya semasa sekolah.

Pendekatannya dengan Putra bisa dibilang mulus, meskipun Alara masih memiliki keraguan terhadap masa lalu hubungan Putra. Tapi sayangnya, hal ini tidak berlangsung lama. Mendadak Alara dilabrak mantan pacar Putra dan membuat kehebohan saat Alara sedang launching pekerjaannya! Sudah jangan ditanya gimana malunya Alara, yang bisa dipikirkannya hanya menenggelamkan dirinya ke inti bumi. 

Masalah ini berbuntut panjang sampai ke orangtuanya. Bagaimana Alara bisa mengurai dan menyelesaikan masalah ini perlahan?


Sebenernya, kalau udah menjelang kepala tiga itu, kita harus punya apa aja sih? Karier sempurna, calon pasangan atau malah pasangan hidup, rumah, dan kemapanan? Memangnya, kalau nggak punya, salah? Melenceng jauh dari harapan masyarakat? Atau gimana sih?

Membaca kisah Alara bikin aku melihat diriku sendiri. Sudah hampir dua puluh enam tahun, belum punya pekerjaan tetap, masih belum punya rumah, untungnya sudah punya pasangan. Apakah aku nggak punya impian? Punya. Aku kalo lihat linkedin-nya temenku yang jabatannya udah manajer, aku juga iri. Lah aku masih jadi staff, gaji juga gini-gini aja. Tapi kalo iri terus, ya kapan selesainya? Bisa aja jabatan mereka bagus, tapi pengetahuan dunia kerjanya nggak seluas aku kan? Jadi solusiku cuma tutup linkedin aja.

Di sini, Alara suka menyesali keputusan-keputusan yang sudah dibuatnya. Mulai dari pindah kantor, pasangan sampai orangtuanya. Kasian banget aku tuh sama Alara. Soalnya dia jadi orang yang nggak pede, takut kalo ngambil keputusan ini nanti salah, itu juga nggak sesuai sama harapannya. Udah nggak pede, giliran salah langsung kayak, "Tuh kan, emang aku tuh salah."
 
Alara ini sebenernya beruntung punya Tiani sebagai sepupunya. Karena dia banyak membantu Alara. Menjadi sahabat, keluarga yang bisa diandalkan, bahkan pendapatnya juga bisa dipertimbangkan lho. Kalo manusia paling ngeselin itu sebenernya Putra. Nggak tau kenapa, aku ngeliat Putra tuh aneh sejak awal. Dia jadi cowok yang too good to be true, dan kenyataannya emang bener kan? Ngeselin banget ya ampun!

Menurutku, kisah ini nggak cuma dialami Alara. Pasti banyak juga remaja tanggung lainnya yang juga merasakan hal yang serupa atau malah lebih parah. Saranku, coba diurai satu-satu. Paling penting banget adalah diri sendiri. Kamu bukan superhero yang bisa menyelamatkan semua orang. Kamu juga bukan badut yang bisa menyenangkan semua orang. Sebelum melakukan keduanya, lebih baik selamatkan dan senangkan diri sendiri dulu.


From the book...
"Al, jangan terlalu percaya sama orang. Nanti lo yang sakit akhirnya."

"Pernah nggak lo mikir, kalau yang sebenarnya lo butuhin buat ngerasa bahagia adalah berdamai sama diri sendiri? Karena dari sudut pandang gue, lo ngotot mau beli rumah cuma buat buktiin ke ortu lo kalau lo bisa. Lo mau pergi dari mereka dengan harga diri intact. kenapa harus pakai jalan berputar dan bikin hidup lo sengsara?"

"Lagi pula, seharusnya aku tahu lebih baik daripada siapa pun, menikah bukan hanya tentang hidup bersama orang yang dicintai. Namun, harus siap berkompromi. Seumur hidup. Aku tidak mau menjadi seperti orang tuaku."

"Kadang, kita lupa buat menyayangi diri sendiri karena terlalu fokus sama orang lain."

"Nggak peduli apa kata orang, jangan menyalahkan diri sendiri terlalu lama. Setiap manusia pasti pernah ngelakuin kesalahan. Karena di hari kita berhenti bikin kesalahan, berarti kita berhenti hidup."

"Sayangnya aku lupa, aku tidak bisa menolong seseorang yang tidak ingin ditolong. Tak peduli betapa besar aku menyayangi Mama, aku tidak bisa memaksanya untuk hidup mengikuti keinginanku."

"Lo nggak lagi denial, kan? Nggak bagus numpuk atau ngubur perasaan. Kalau memang masih belum oke, nggak apa-apa, Al. Nggak ada deadline buat patah hati, jadi nggak harus cepat-cepat selesai."

"Tapi mungkin lo nggak harus punya passion buat melengkapi hidup lo. Mungkin... lo cuma perlu menerima dan memaafkan diri lo sendiri. Hidup sambil terus-terusan lari dari kenyataan itu bikin capek, Al."

"Seperti yang tadi kukatakan, sekarang yang paling penting adalah berusaha untuk kembali memercayai penilaianku sendiri. Aku harus belajar untuk percaya pada diriku lagi."

"Ya, penerimaan. Bukan memaafkan, berdamai, atau menyembuhkan luka. Jawabannya adalah... aku harus belajar menerima."

Monday, January 15, 2024

[REVIEW] Remedies

Remedies

Trissela

Gramedia Pustaka Utama

264 Halaman

"Coba berhenti lari, Ger. Selama ini kamu cuma lari di lingkaran. Setelah lama lari, pasti ada waktunya kamu kembali ke titik awal seperti sekarang. Kamu tahu kita nggak akan selamanya dihadapkan sama pilihan yang menyenangkan, terutama saat tahu kamu nggak punya pilihan buat menghindar lagi."


B L U R B

Retha kaget saat tahu Gerry masuk SMA yang sama dengannya. Cowok itu berhasil bikin dia terkagum-kagum saat dia menonton salah satu pertandingan polo air beberapa tahun lalu. Namun, Gerry sudah berhenti menjadi atlet. Kenapa, ya? Padahal kata teman Retha, Gerry salah satu atlet andalan klub.

Meski sering memasang wajah judes kalau Retha ikut muncul bareng Niko dan Farhan, Gerry tidak pernah mengusirnya terang-terangan. Rasa penasaran Retha semakin menjadi setelah Gerry menolak pengambilan nilai renang untuk pelajaran olahraga mereka. Aneh banget. Atlet yang akrab dengan kolam renang harusnya nggak ada masalah dengan itu, kan?

Lalu tiba-tiba muncul laki-laki yang menitipkan bungkusan nasi kuning untuk Gerry sepulang sekolah. Siapa lagi itu? Kenapa Gerry kelihatannya marah besar saat Retha menyampaikan tentang kedatangan laki-laki itu, ya?
 
- - - - - - - - -
 
Kehidupan SMA ini seharusnya kehidupan yang paling menyenangkan, punya mimpi yang segambreng, mulai berteman dengan berbagai macam orang, mulai melakukan kenakalan kecil, mulai jatuh cinta yang sampai bermimpi kalau dia bakalan jadi the one di kemudian hari. Sayangnya hal itu nggak berlaku buat Gerry. Yang perlu dilakukannya saat ini hanyalah menjalani hidupnya. Tanpa mimpi, tanpa makna berarti.
"Katanya cinta, tapi udah nggak bahagia. Terus pisah. Mereka bilang, lama-lama cinta itu bisa berubah bentuk. Katanya mereka yang nggak bisa nyesuaiin lagi." P. 94
Kedatangan Retha ke SMA Bina Bangsa cukup membuat dunia Gerry sedikit ramai. Gerry yang terbiasa duduk sendiri, memperhatikan teman-temannya dalam diam jadi sedikit terusik. Retha bisa dibilang fans beratnya. Retha tau bahwa dulunya dia adalah atlet polo air, bahkan Retha juga masih setia menonton ulang pertandingan polo air, hal yang sudah dibenci Gerry.

Bagi Gerry semuanya seharusnya baik-baik saja kalau Retha tidak bertemu dengan laki-laki yang menitipkan bungkusan nasi kuning untuk Gerry, atau Gerry akhirnya mengetahui bahwa Retha memiliki masalah yang mirip dengannya.


Membaca kisah Gerry akan dimulai dengan banyaknya teka-teki. Mulai dari masa lalu Gerry yang cuma sepatah-sepatah, ketakutan-ketakutan Gerry, Retha yang ternyata fans berat Gerry. 

Seumuran Gerry seharusnya tidak terlalu memikirkan banyak hal. Seharusnya di masa ini dia bersenang-senang dan mengejar mimpinya jadi atlit. Sayangnya, masa lalu menjeratnya, begitu dalam. Membuat dia lebih memilih untuk terus tenggelam dan terjebak di sana.

Remedies, seperti waktu kita sekolah dulu, kalau nilai kita nggak sesuai KKM, maka kita akan remidi. Sama seperti kisah Gerry, masalah yang dimilikinya banyak, kebencian dan berbagai pertanyaan juga dipendamnya. Kali ini, Retha membantunya perlahan-lahan, mengurai masalah yang dihadapinya, membantu menjawab sebisanya.

Kisah Gerry membuatku kembali belajar untuk melepaskan dan mengikhlaskan perlahan-lahan. Masa duka setiap orang berbeda-beda. Ada yang melaluinya karena sudah mempersiapkan hal tersebut, ada yang sehari, sebulan, setahun, atau bahkan bertahun-tahun tidak tuntas. Tapi nggak masalah, setiap orang berproses, setiap orang punya waktunya sendiri-sendiri. Yang penting kita mau melangkah maju untuk melepas duka kita perlahan.

Terima kasih Gerry, Retha, dan sobat geng Monyet!



 From the book...
"Tapi buat sebagian orang, alasannya nggak serumit itu. Sebagian orang menikah karena mau melanjutkan garis keturunan atau memang karena nggak mau kesepian sepanjang hidupnya." P. 97

"Karena Tante merasa hidup jauh lebih mudah waktu Tante bareng sama om kamu. Kadang satu alasan itu aja cukup. Kamu nggak mungkin betah hidup sama orang yang bikin kamu susah seumur hidupmu." P. 97

"Hidup selamanya sama satu orang itu sulit. Mungkin aja suatu hari nanti salah satu dari kami merasa kadar cinta makin berkurang. Nggak ada yang tahu. Tapi, semua pasangan selalu punya pilihan untuk bertahan atau menyerah." P. 98

"Cinta aja nggak cukup untuk membuat seseorang bertahan, Ger." P. 100

"Coba berhenti lari, Ger. Selama ini kamu cuma lari di lingkaran. Setelah lama lari, pasti ada waktunya kamu kembali ke titik awal seperti sekarang. Kamu tahu kita nggak akan selamanya dihadapkan sama pilihan yang menyenangkan, terutama saat tahu kamu nggak punya pilihan buat menghindar lagi." P. 114

"Semua orang punya rahasia masing-masing." P. 137

"Hiduplah buat diri lo sendiri. Bikin diri lo sendiri bangga. Berbanggalah karena lo bisa melewati hidup lo yang menyebalkan ini." P. 181

"Selama itu bisa bikin lo bahagia, nggak perlu pikirin hal lain lagi, Ger." P. 236

Sunday, January 7, 2024

[REVIEW] Swing

Swing

Kincirmainan

Elex Media Komputindo

472 Halaman

"Semua orang punya rencana. Kadang mereka memperhitungkannya, kadang terpikirkan begitu saja."


B L U R B

Cluster Permata Indah, hunian baru di pinggir kota, dikejutkan oleh sesosok mayat yang tenggelam di bathtub sebuah rumah. Yang pertama menemukannya adalah salah satu penghuni rumah sebelah.

Mahesa, penyidik muda yang menangani kasus tersebut, merasa heran. Apa yang dilakukan penghuni rumah sebelah itu pada tengah malam di lokasi kejadian? Tidak ada tanda-tanda perusakan atau bunyi gaduh yang didengar tetangga lain. Apalagi ternyata mayat itu ditemukan beberapa jam setelah waktu perkiraan tewas.

Kebigungannya semakin menjadi setelah Tara, tetangga seberan kediaman korban, mengatakan ada indikasi suami istri di kedua rumah tersebut bertukar pasangan.

Apakah tuduhan tersebut ada kaitannya dengan kejahatan yang terjadi? Sanggupkah Mahesa mengurai teka-teki yang pelik ini?

- - - - - - - - -

Berawal dari kepindahan pasangan Kalamia Modesta dan Malik Satya Hod ke sebuah rumah di pinggiran kota. Menurut Malik sudah seharusnya mereka hidup terpisah dari sang Ibu, dan juga pekerjaan Malik yang tidak terikat waktu dan tempat. Sementara pekerjaan Mia, adalah mensupport Malik, agar masakan yang dibuatnya bisa membuat orang lain tergoda untuk mengincip atau membeli resepnya. Jadi, jauh dari keramaian kota nggak menjadi masalah untuk mereka berdua.
"Cintamu terlalu dangkal. Perasaanmu terhadapnya hanya sebatas obsesi. Kamu menginginkannya... karena kamu nggak bisa memilikinya. Kamu hanya perlu meluapkannya sampai habis, nggak ada jalan lain. Habiskan, maka suatu hari kamu akan berhenti." P. 277
Sebagai tetangga baru, Mia tentu saja perlu untuk mengakrabkan diri dengan tetangga sekitarnya. Termasuk calon tetangga barunya yang ternyata orang yang datang dari dunia entertainment dan salah satunya, pernah menjadi masa lalunya. Menurutnya, tetangga barunya—Irma Kalia dan Anselimus Jalu—menyembunyikan sesuatu. Sejak kedatangan mereka berdua, Mia merasakan beberapa kejanggalan, mulai dari sikap Malik yang kelewat ramah terhadap Irma, atau Ansel yang berusaha kembali menghubunginya dan berusaha memberi tahunya tentang sesuatu.

Pada awal aku membaca blurb, aku mengira isi cerita ini tentang bagaimana cara polisi menemukan siapa pembunuhnya. Tapi ternyataaa.. enggak! Di bagian awal, memang dikasih tau siapa dan di mana orang yang meninggal, yang nggak kusangka adalah... cerita itu sendiri.

Hubungan Malik-Mia ini sebenernya menurutku cukup aneh. Malik yang sangat introvert dan gila kerja, ya tentu aja di dunia nyata ada laki-laki yang seperti itu. Gila kerja, cuek, dan nggak ada romantisnya, tapi Malik? Menurutku dia cowok yang aneh. Sementara Mia, aku merasa dia ini terlalu naif. Polos sekali. Berusaha untuk positif thinking di setiap perlakuan Malik. Padahal tingkah Malik-Irma ini cukup mencurigakan lho di beberapa bab lho.

Selama membaca ini, aku terus menebak, kenapa Irma terus mendekati Malik, atau kenapa Ansel berburuk sangka sama Malik, padahal Malik nggak keliatan mencurigakan. Tapi ternyata yang paling nyebelin di sini malahan Malik. Setiap karakter di sini kayak suspect banget. Setiap mereka punya alasan dan latar belakang sendiri. 

Di sini, aku merasa kasihan sama Irma dan Mia. Mereka terjebak dengan cara mereka berpikir. Irma dengan kesamaan masa lalunya dengan Malik yang menganggap bahwa mereka saling melengkapi satu sama lain. Sementara Mia, dia merasa utang budi dengan apa yang pernah dilakukan Malik untuk dirinya dan keluarganya di masa lalu. Sudah. Komplit. Malik dan segala kebaikannya kurasa.

Saat membaca Swing, aku bingung, kenapa judulnya Swing? Sampai di pertengahan novel, aku baru menyadari, swing dalam bahasa seks ini adalah bertukar pasangan. Kak Kincirmainan mengambil tema yang cukup 'panas' dan menantang. Ada beberapa adegan seks yang dimasukkan di sini, tapi bukannya terkesan murahan, malah menjadi salah satu aspek penting. Apalagi ini membahas hubungan pernikahan yang nggak cuma aneh, tapi 'cacat' juga.

Thriller salah satu genre novel yang cukup kusukai. Aku suka ketika menebak-nebak apa yang akan mereka lakukan, atau clue-clue apa yang ditebar sama penulisnya. Swing memiliki narasi yang cukup panjang, ini bikin aku harus konsentrasi waktu baca, biar nggak terlewat hal-hal yang dilakukan keempat karakternya. Penjelasan setiap karakternya juga cukup mendetail, endingnya cukup melegakan sekaligus nggak ketebak sih.

 

From the book...

"Orang yang berniat bunuh diri dengan menenggelamkan diri pastinya memilih kedalaman yang cukup. Salah satu cara mati yang paling menyakitkan adalah tenggelam, dan biasanya mereka mati setelah berjuang mati-matian melawan rasa sakit. Jika memungkinkan menyelamatkan diri, mereka akan melakukannya." P. 3

"Dia mencintaimu, Malik. It's the root of everything, tapi cinta saja kadang nggak cukup. Kamu selalu tahu dia mencintaimu, tapi lain denganku... lain denganmu.. dia bisa tanpamu... bukankah karena itu kamu nggak melaporkannya ke polisi, dan menyimpan rekaman videonya?" P. 206

"Mia... nggak ada laki-laki yang hanya menginginkan pasangannya saja yang berbahagia. Nggak ada manusia kayak gitu. Mungkin dia memang sangat mencintaimu. Did'nt he say... he will find a way? Sometimes... a broken person di crazy stuff we can't comprehend when they fall in love. We just need to know his reason." P. 222

"Semua orang punya rencana. Kadang mereka memperhitungkannya, kadang terpikirkan begitu saja." P. 233

"Cintamu terlalu menginginkannya...karena kamu nggak bisa memilikinya. Kamu hanya perlu meluapkannya sampai habis, nggak ada jalan lain. Habiskan, maka suatu hari kamu akan berhenti." P. 277


Friday, January 5, 2024

[REVIEW] Menanti Hari Berganti

Menanti Hari Berganti

Titi Sanaria

370 Halaman

Book Ease

"Bagi sebagian orang, kehidupan memang mudah. Mereka tidak perlu khawatir tentang apa yang harus dimakan, tempat tinggal yang layak, dan yang paling penting, tidak diganggu bayangan masa lalu yang seperti melekat, meskipun tak terlihat. Mengintai, menunggu saat kesadaran lengah untuk kemudian mengambil alih kendali."

 
B L U R B
 
Pelecehan seksual yang dialami Keira meninggalkan trauma mendalam.
 
Peristiwa itu membuat Keira yakin, dia tidak akan pernah bisa menjalani hubungan asmara. Kontak fisik dengan lawan jenis adalah hal mustahil.
 
Ketika seorang laki-laki keras kepala konsisten mendekatinya, untuk pertama kali Kiera memikirkan kemungkinan menjalani kehidupan normal seperti yang disarankan psikiaternya.
 
Masalahnya, apakah Kiera tega menyeret seseorang ke dalam ketidakpastian proses penyembuhannya?
Bagaimana jika dia tidak pernah bisa sembuh dari luka masa lalu?
 
- - - - - - - - -
 
Bagi Keira, kehidupannya saat ini sudah cukup. Pekerjaannya sebagai ghost writer cukup menyenangkan. Tidak perlu terlalu sering berinteraksi dengan banyak orang, harga atas pekerjaannya juga sangat cukup untuk menghidupinya dengan baik. Sayangnya, mimpi buruknya di masa lalu masih sering menghantuinya. Pelecehan yang pernah terjadi bertahun-tahun lalu, yang membuat mimpi-mimpinya harus dipendam, selalu membuatnya terbangun subuh-subuh. Bagaimana cara menghentikannya, Keira masih tidak tahu.
"Hidup dengan menyalahkan diri sendiri selama lebih dari sepuluh tahun pasti nggak mudah. Terutama karena dia tahu aku nggak pernah memakai uang yang rutin dia masukkan dalam rekeningku setelah aku bisa mencari uang sendiri. Dia pasti merasa dirinya nggak berguna. Sudah kerja keras mencari uang, tapi nggak dianggap oleh anak sendiri." P. 347
Klien terbarunya adalah seorang perempuan yang berdaya, memiliki yayasan yang mensupport perempuan dengan segala masalah pelik yang sering terjadi, dan juga cukup berpengaruh. Termasuk anaknya. Anak laki-laki yang ternyata masih ada hubungan teman dengan sahabatnya, terus mendekatinya. Dari gelagatnya, Keira sudah paham. Risyad adalah tipe laki-laki yang suka dengan tantangan, dan kali ini, Keira termasuk salah satu tantangan yang sepertinya akan disukai Risyad.

Rasa-rasanya, hidup sebagai Keira nggak gampang. Hidup dibayangi masa lalu yang cukup kelam, mimpi buruk yang kadang membuatnya kesulitan tidur, belum lagi dia harus menjaga jarak dengan laki-laki, supaya nggak memicu traumanya. Terbiasa menanggung itu semua membuat Keira jadi terbiasa tidak banyak bercerita.

Awalnya, aku cukup kesal dengan Keira yang selalu memandang rendah dirinya, merasa bahwa hidupnya tidak cukup layak untuk dihargai. Belum lagi dia ini terlalu pesimis! Ya ampun, gemes banget. Segalanya jadi terasa salah di mata Keira, cara Risyad yang memperlakukannya dengan baik, atau bagaimana perhatian-perhatian yang diberikan orang-orang terdekatnya.

Selama membaca ini, jujur aku beberapa kali memberi jeda. Soalnya baca kisah Keira ini perlu banyak energi, bukan karena alurnya yang lambat, tapi karena Keira yang terlalu pesimis. Jadi aku ikut menyelami juga karakter Keira. Kayaknya udah beberapa tahun belakangan, isu kesehatan mental jadi salah satu hal yang cukup diperhatikan dan banyak orang yang sudah sadar tentang hal ini. Menurutku ini bagus, karena waktu Keira mengalami pelecehan seksual, tidak ada yang menolongnya, bahkan dari keluarga terdekatnya pun enggak. Malah menuduh Keira yang mungkin menggunakan pakaian yang menggoda.

Respon yang kayak gitu tuh nggak membantu. Sungguh. Setidaknya dengarkan suaranya, ceritanya, jadi nggak membuat seseorang trauma. Udah nggak didengar, dituduh pula. Kan jadi kapok ya. 

Aku suka ketika Keira mau perlahan-lahan keluar dari zona nyamannya. Langkahnya pelan banget, tapi pasti. Tentu saja ini juga dengan bantuan dari berbagai pihak. Aku juga suka dengan cara keluarga Risyad yang mau menerima Keira lengkap dengan masa lalunya dan nggak banyak menuntut! Ya ampun, kayaknya orang dengan pemikiran seperti ini harus diperbanyak.

Kayaknya ini salah satu buku kak Titi yang paling menyesakkan buatku. Teruntuk kalian yang berniat membacanya, saranku sebaiknya bacalah saat suasana hati sedang tidak terbebani apapun. Biar nggak terguncang.


From the book...
"Bagi sebagian orang, kehidupan memang mudah. Mereka tidak perlu khawatir tentang apa yang harus dimakan, tempat tinggal yang layak, dan yang paling penting, tidak diganggu bayangan masa lalu yang seperti melekat, meskipun tak terlihat. Mengintai, menunggu saat kesadaran lengah untuk kemudian mengambil alih kendali." P. 22

"Hubungan yang harmonis itu adalah komunikasi ranjang yang sangat berhasil. Gue juga lihat itu dari hubungan orangtua gue." P. 32

"Yang terjadi di masa lalu bukan salah kamu, jadi jangan pernah berpikir kalau diri kamu jadi nggak berharga. Hanya karena orang tolol yang menilai seseorang dari masa lalu. Dan kalaupun kita benar-benar melakukan kesalahan, memangnya kenapa? Kita manusia. Kita belajar dari kesalahan-kesalahan yang kita buat. Yang salah itu adalah melakukan sesuatu yang terlarang dengan sengaja, dan terus mengulangnya. Itu yang disebut tolol." P. 125

"Kalau bicara nominal, ukuran tiap orang berbeda sih, Mas. Jumlah yang menurut saya bagus, untuk Mas mungkin nggak seberapa. Itu balik lagi karena standar hidup dan kebutuhan tiap-tiap orang berbeda." P. 133

"Lo nggak perlu kenal semua perempuan di dunia untuk tahu orang yang cocok sama lo, Bro. Saat bertemu orang yang tepat, lo akan tahu aja. Itu dari dalam hati." P. 151

"Tentu saja kebahagiaan kamu nggak tergantung pada orang lain. Kita yang memegang kendali hidup kita, Kiera. Tapi rasanya sayang saja kalau kamu nggak memberi diri kamu sendiri kesempatan menaklukkan ketakutan kamu. Mungkin nggak sekarang, karena pasti butuh waktu untuk mengubah sudut pandang." P. 171

"Rasanya selalu sedih saat melihat orang yang meragukan diri sendiri karena perbuatan bejat seseorang di masa lalu. Karena itu yang biasanya terjadi pada korban seperti kamu. Saya harap kamu nggak menyerah pada keinginan punya pasangan hodup seperti beberapa orang yang pernah saya kenal." P. 171

"Maksud saya, terima aja kalau seseorang memuji kamu. Jangan meragukan penilaiannya hanya untuk terlihat nggak sombong. Nggak mengakui kamu cantik jatuhnya jadi munafik, kan?" P. 205

"Jatuh cinta sama kamu itu bukan keputusan saya, Kie. Meskpun belum pernah punya hubungan dengan seseorang, kamu juga pasti tahu kalau kita nggak bisa memilih dalam urusan cinta. Itu datang dari hati, bukan kepala." P. 232 to 233

"Kita mulai pelan-pelan saja, Kie. Kita berjuan bersama. Semua orang selalu lebih menghargai sesuatu yang didapatnya melalui perjuangan. Saya yakin kita juga akan merasa seperti itu." P. 234

"Itu hak lo sih, Kha. Nggak ada yang akan memaksa lo untuk percaya juga, kan? Tapi gue yakin kok kalau persepsi orang bisa berubah. Tunggu aja sampai lo ketemu orang yang tepat. Orang yang nggak hanya bikin lo memikirkan tempat tidur saat ketemu dia." P. 252

"Kalau beneran cinta, menghabiskan waktu bersama jadi kebutuhan, bukan kewajiban. Itu menurutku sih, Kie. Tapi tiap orang punya persepsinya sendiri. Menurutmu?" P. 270

"Hidup dengan menyalahkan diri sendiri selama lebih dari sepuluh tahun pasti nggak mudah. Terutama karena dia tahu aku nggak pernah memakai uang yang rutin dia masukkan dalam rekeningku setelah aku bisa mencari uang sendiri. Dia pasti merasa dirinya nggak berguna. Sudah kerja keras mencari uang, tapi nggak dianggap oleh anak sendiri." P. 347