Sunday, February 28, 2021

[Review] Silence


Judul : Silence

Penulis : Akiyoshi Rikako

Penerbit : Haru

Tebal : 332 Halaman

"Aku ingin kembali ke masa saat aku masih percaya bahwa masa depan akan bergelimang kebahagiaan..."


B L U R B

Kenapa aku tidak bisa keluar dari pulau ini?

Miyuki dibesarkan di Yuki-no-Shima, sebuah pulau terpencil yang konon dilindungi oleh Simatama-san, dewa penjaga pulau. Miyuki yang bermimpi menjadi artis akhirnya keluar dari pulau itu dan tinggal di Tokyo, meskipun ditentang oleh kedua orangtuanya.

Setelah lama tidak pulang, akhirnya tahun ini Miyuki akan pulang bersama dengan Toshiaki, kekasihnya. meski awalnya Miyuki tidak menyadarinya, tapi sepertinya Simatama-san tahu ada yang tidak beres dengan Toshiaki.

Apa pun yang terjadi, Shimatama-san pasti melindunginya, kan?

- - - - - - - - -

Miyuki, seorang gadis cantik yang mempunyai mimpi menjadi artis, meskipun dia dari pulau kecil yang penduduknya hanya 300an orang, hal ini nggak menyurutkan keinginannya itu. Hal itu seharusnya bisa dicapai saat dia duduk di bangku SMP kelas 2, dia bahkan sampai lolos audisi tahap kedua, dan menjadi perwakilan di Niigata. Sayangnya, ayah dan ibunya nggak memperbolehkannya, karena dia boleh melakukan yang dia mau, saat dia sudah lulus kuliah. Hmm.. Memberatkan juga ya? Padahal di Jepang semuanya harus dimulai dari sejak kecil. Bukan mendadak viral kayak di Indonesia gitu.
"Saya kagum dengan sosok Anda yang bekerja dengan sekuat tenaga. Kalau mau, berpacaranlah dengan saya." P. 24
Toshiaki, seorang pekerja di sebuah perusahaan periklanan yang saat itu menggunakan artis yang dimanageri oleh Miyuki. Di sanalah akhirnya mereka bertemu, dan kemudian mereka memulai hubungan. Toshiaki merupakan sosok idaman semua wanita, berpakaian rapi, belum lagi wajahnya juga menawan. Setelah menjalani hubungan berdua, Toshiaki juga sangat bergantung pada Miyuki, segala kebutuhan mereka berdua juga dicukupi oleh Miyuki. Tapi bagaimana kalau Miyuki mengajak Toshiaki berkunjung sebentar ke pulaunya? Akankah dia menolak?


R E V I E W

Membaca buku ini karena diajak salah satu bookstagrammer, Kak Via. Karena kalau enggak, mungkin ini masih mengendap beberapa bulan atau bahkan tahun di lemariku. Hehe..

Membaca novel karya Akiyoshi ini selalu ditutup dengan keheranan luar biasa! Akan selalu ada kejutan di bagian akhirnya, selalu memulai semuanya dengan potongan-potongan pertanyaan. Kali ini tentang Miyuki dan Toshiaki. Menurutku Miyuki ini sosok yang menarik lho. Dia anak yang berkeinginan keras, meskipun banyak ditentang sama orang tuanya. Tapi dia bisa membuktikan, bahwa nggak jadi artis pun, dia tetep kerja di bidang yang berhubungan dengan artis. Walau aku yakin banget sih, namanya penyesalan itu pasti ada, ditunjukkan juga bahwa dia menyesal kenapa dulu tidak lebih berani untuk mengambil keputusan lain. Kerasa banget sih ini penyesalannya.

Sedangkan Toshiaki, cowok ini menurutku menjengkelkan banget nget nget! Ngeselin sekali. Apa ya, dia itu egois banget. Mana ternyata kelakuannya tuh nggak sebaik yang ditampilin waktu ada banyak orang! Ya memang sih, tiap orang kan pasti punya sis yang nggak ditunjukkan ke banyak orang, tapi sisinya Toshiaki ini menurutku buruk sekali.

Untuk alur ceritanya sendiri alur yang maju mundur. Jadi buku ini dibagi ke dalam enam bab, di bagian awal bab akan ada potongan cerita. Nah, ini yang bikin jadi bingung awalnya. Karena cuma berupa potongan, dan bawahnya udah cerita yang beda lagi. Tapi kalau bisa ngikutin, pasti nggak bingung kok guys. Hihi..

Thursday, February 25, 2021

[Review] Insecure

 

Judul : Insecure

Penulis : Seplia

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 240 Halaman

"Gue harus apa? Gue pengin banget membahagiakan orangtua gue, tapi kalau gue sendiri nggak bahagia bagaimana?"

 
B L U R B
 
- Zee -
Jangan menatap luka dan memar ditubuhku.
Jangan berani bertanya apa yang terjadi.
Menjauh saja dariku.
Hanya dengan begitu, aku merasa aman.
 
- Sam -
Meski orang lain menganggap otak gue nggak guna,
setidaknya tubuh gue selalu siap menjadi tameng untuk melindungi orang-orang yang gue sayang.
Buat gue, itu lebih dari sekadar berguna!
 
____________***____________
 
Zee Rasyid dan Sam Alqori satu bangku di tahun terakhir SMA mereka. Sikap Zee yang tertutup perlahan melunak dengan kehangatan yang ditawarkan Sam.
 
Apalagi ketika Zee melihat kondisi keluarga Sam yang sederhana, berbeda jauh dari kehidupannya dengan sang mama.

Pelan-pelan kedekatan Zee dan Sam membuat kepribadian masing-masing berubah. Hidup yang mereka jalani tak lagi terasa aman.

- - - - - - - - -
 
Zee Rasyid bisa dibilang anak yang cukup pintar, tapi dia nggak punya teman. Zee memilih untuk menyendiri, dia nggak mau ada orang yang tahu tentang bekas memar di tubuhnya, karena dia nggak suka menjawab pertanyaan tersebut. Tapi di kelas dua belas ini, dia akhirnya memiliki teman sebangku, teman yang cukup cerewet dan juga cukup malas. Namanya Sam, selain malas, dia suka datang ke sekolah terlambat, ah ralat, amat terlambat, karena dia masuk sekitar jam sepuluh.
"Beberapa orang nggak siap jadi orangtua, yang lainnya stres oleh beban hidup. Orang baik bisa berubah jahat kapan pun itu kalau dia terjepit oleh keadaan yang nggak menguntungkan." P. 179
Sam Alqori, si anak yang suka dateng telat, masalahnya, telatnya nggak cuma beberapa menit, bahkan sampai jam sepuluh biasanya dia baru datang! Nggak cuma itu aja, Sam ini anaknya juga cukup pemalas. Dia bisa nggak kerjain tugas, dan sebagainya. Untung aja ada Zee, teman sebangkunya yang baik, selalu ngasih jawaban PR yang dikasih sama guru. Bagi Zee, kehidupan Sam sepertinya menyenangkan. Selalu bisa tertawa kapan saja, belum lagi dari ceritanya, ibu Sam juga baik. Tapi apakah memang kehidupannya seperti itu? Apakah memang kehidupannya baik-baik saja?


R E V I E W

Jujur aja, buku ini sebenernya udah aku beli dari beberapa tahun lalu. Kalau nggak salah dua tahun lalu, barengan sama aku beli Replay. Tapi aku bacanya memang baru sekarang, entah kenapa pas dulu mulai masih belum kepingin baca gitu.

Novel kak Seplia yang ini menurutku temanya masih sama tentang mental health. Dulu mungkin masih belum relate ya, karena mungkin dianggap kurang doa, ngaco dan segala macem. Tapi kalo sekarang menurutku udah relate banget, sudah banyak yang menyuarakan tentang hal ini. Cerita ini salah satunya. Gimana sih rasanya hidup dengan seorang ibu yang bekerja? Mungkin untuk sebagian orang terasa biasa aja ya? Atau malah senang, karena ibunya nggak banyak mengatur. Hal ini juga kadang disyukuri sama Zee. Nggak banyak orang tau, bahwa ibunya suka memukulnya, kadang alasannya juga nggak masuk akal. Zee sendiri juga memilih untuk memendamnya sendiri. Ini cukup menarik sih alasannya, dan juga menurutku pribadi, alasan Zee nggak ngelaporin adalah hal yang wajar dan mungkin juga kalau diposisinya Zee, aku bakalan melakukan hal yang sama.

Sementara kalau dilihat dari sisi Sam, meskipun dia ini anaknya bandel, tapi dia ini family man banget. Peduli banget sama Ibu dan kakak perempuannya, juga sama Vini, tetangga sekaligus temen baiknya dia. Nah, yang nggak banyak orang tau juga, Sam ini juga punya keluarga yang nggak baik-baik aja, terutama ayahnya.

Tagline di bagian cover bener-bener jadi konklusi ceritanya menurutku. Aku suka di bagian akhir ceritanya, mereka bisa melepas masa lalu mereka dengan baik, nggak maksa, dan manis.

Monday, February 1, 2021

[Review] Sayap-Sayap Kecil

 

Judul : Sayap-Sayap Kecil

Penulis : Andry Setiawan

Penerbit : Inari

Tebal : 124 Halaman

"Dia hanyalah... dia. Mungkin bagiku dia hanyalah orang lan, seperti orang yang kau temui di pinggir jalan dan kemudian kau lupakan wajahnya begitu saja."

 
B L U R B
 
Para pembaca,
Berikut fakta singkat tentang diriku:
 
1. Namaku Lana Wijaya
2. Ibu suka memukul dan menyiksaku bahkan dengan kesalahan sekecil apa pun. Seperti ketika aku lupa membeli obat nyamuk.
3. Aku punya tetangga baru, cowok cakep yang tinggal di sebelah rumah.
4. Kehadiran cowok cakep tidak mengubah kenyataan bahwa aku sering pergi ke sekolah dengan bekas memar di sekujur tubuhku.
5. Doakan aku supaya bisa lulus SMA secepat mungkin dan pergi dari rumah sialan ini.

Buku ini adalah buku harianku. Aku tidak akan merahasiakannya dan membiarkan kalian untuk membaca kisah hidupku yang tidak terlalu sederhana ini. Mungkin sedikit aneh, tapi aku harap kalian bisa belajar dari aku.

- - - - - - - -

Lana Wijaya, seorang siswa kelas 11. Kehidupannya bisa dibilang biasa aja, nggak ada yang spesial, nggak punya teman dekat juga. Ah, kecuali mamanya. Iya, Lana selama ini hanya hidup dengan mamanya aja, papanya pergi meninggalkan dia dan mamanya. Kalau ditanya, kerjaan mamanya ngapain, mamanya tuh kerjaannya nggak bener, sebagai penari malam. Tau sendiri kan penari malam gimana imagenya, belum lagi mamanya suka mukul. Apa pun kesalahan kecil, pokoknya kalo nggak sesuai sama hatinya, dia bakalan mukulin Lana.
"Tidak, aku tidak membenci Ibu. Entah apa yang aku rasakan ini. Dia ibuku, orang yang melahirkan diriku. Walaupun aku tidak bisa menghormatinya, atau menganggapnya sebagai panutan, aku tidak bisa membencinya." P. 33
Terbiasa dipukuli sejak kecil, bikin Lana jadi terbiasa dengan pukulan, makian, dan juga sumpah serapah mamanya. Makanya dia sampe kebal, meskipun dia harus terlihat aneh di sekolah. Mulai dari miring-miringin baju, pakai jaket dan segala macem untuk nutupin bekas memarnya. Hari ini, seperti biasanya dia main ke rooftop sekolahnya untuk sekadar bermain gitar. Kenapa tidak main di rumah? Tentu saja karena kalo main di rumah, bakalan kena marah. Berisik kata mamanya. Baru kali ini, ada anak cowok yang menemuinya, namanya Surya, anak pindahan kelas 12 IPA, dan ternyata, dia juga menempati rumah kosong di sebelah rumah Lana. Apa Surya bisa membantu Lana ya untuk keluar dari permasalahan Lana?


R E V I E W

Buku kecil ini sudah lama menempati rak bukuku, nggak tau juga awalnya dapet buku ini dari mana, dari giveaway kah atau dikasih sama orang kah. Novel ini cukup tipis, dan gaya berceritanya pun beda dari yang lain. Menarik.

Meskipun kecil-kecil begini, isinya berbobot dan cukup mengiris-ngiris hatiku. Beneran. Bayangin aja, dipukulin kalo moodnya nggak baik, kalau salah, padahal kadang itu cuma nggak masak. Ya ampun, ibunya ini apa ya nggak punya tangan sama kaki sih? Sampe masak aja nggak mau? Kudu diladeni semua. Aku aja yang kadang dimarahin bukan karena kesalahanku aja jengkelnya setengah mati, gimana Lana yang kadang sampe dipukul pake kepalan tangan di punggung atau pantat.

Lana sendiri, nggak mau melaporkan ibunya ke KPAI, padahal dia tau jelas bahwa mamanya bersalah, tapi sekarang kan hanya dia yang dipunya Lana. Jadi kebimbangan juga kan? Ayahnya Lana juga nggak tau ke mana.

Menurutku ini buku ini banyak sekali mengajarkan ke kita, jangan pernah main tangan sama anak kecil. Jangan. Kita nggak tau efek jangka panjangnya. Trauma kah dia? Benci kah? Dendam kah? Kalau memang nggak mau ngurus anak atau punya anak, nggak papa kok untuk nggak hamil kemudian melahirkan. Buat apa punya anak tapi nganggepnya sebagai investasi? Buat nemenin di masa tua, buat nanti ganti jasa selama ini ngerawat mereka. Kalau memang ikhlas, dan keinginan sendiri, kan lebih enak, apa yang ditabur nantinya akan dituai juga kan?