Wednesday, May 26, 2021

[Review] Bertumbuh Bermimpi


Judul : Bertumbuh Bermimpi 

Penulis : Esha Mahendra

Penerbit : Gagas Media

Tebal : 154 Halaman

"Menurut gue, justru kita harus egois dalam hal kebahagiaan. Walaupun kebahagiaan itu kadang harus diraih dari sebuah tangisan dan penderitaan."


B L U R B

Hidup itu penuh kejutan—nggak melulu isinya bahagia, ada saja masalah yang hadir. Belum kelar masalah yang satu, udah ada masalah baru. Begitu juga hidup gue, masalah datang silih berganti, mulai dari persahabatan, percintaan, pekerjaan, sampai masalah rumah tangga. Kadang banyak bumbu dramanya kayak drakor. Sayangnya, tampang gue jauh dari oppa-oppa.

Hampir semua masalah yang gue sama Anka lewatin pernah kami bahas di Podcast Obrolan Babibu, tapi ada beberapa hal yang cuma bisa gue ceritain di buku ini, misalnya, masalah yang gue yakin pernah dialami pasangan lain juga, yaitu perselingkuhan.

Anggap saja buku ini adalah cerita dari seorang teman yang memberikan sudut pandang lain berdasarkan masalah-masalah yang pernah dialami. Segala permasalahan ini adalah proses kami bertumbuh bermimpi. Nah, dengan segala permasalahan hidup yang juga lo hadapi, sudah siapkah lo bertumbuh dan bermimpi?

- - - - - - - - -

Karena ini berisi kumpulan cerita, aku langsung aja untuk review secara keseluruhan yaaa..

Ada yang pernah mendengarkan Podcast Babibu? Atau pernah tau sebelumnya? Yep. Kak Esha ini adalah penulis sekaligus pemilik Podcast Babibu. Mungkin ada yang sering banget dengerin ya? Aku juga salah satunya. Hihi.. Sering lewat di storyku jadi penasaran untuk lihatin, dan ternyata cukup seru juga ya.
 
Membaca tulisan Kak Esha ini jujur aja kayak lagi ngomong sama temen lama. Diceritain, gimana perjalanan dia untuk sampai ke titik ini, gimana perjuangannya, siapa aja yang nemenin, dan tentu aja diselipkan kisah cintanya juga. Hihi..

Selama membaca, aku berasa kayak diajarin, tanpa menggurui. Apalagi ini pelajaran kehidupan. Tau sendiri kan, buat sebagian orang, kehidupan itu privasi banget. Nggak untuk dibagi-bagi ke orang lain. Apalagi kalo ada masalah. Aduh, mending disimpen baik-baik deh. Soalnya kalo ketauan berabe. Nggak cuma bikin geger sama pasangan, tapi bisa sama keluarga juga kan?

Selain itu, buku ini juga banyak membahas tentang kehidupan. Bagaimana kadang kehidupan bisa begitu 'kejam', kadang juga bisa sebaik dan setak-terduga itu. Ya memang hidup ini lucu dan perlu banget untuk ditertawakan. Biar nggak serius terus. Nanti capek sendiri.

Untuk bagian yang aku suka sih bagian di mana Kak Esha sharing tentang kehidupan percintaannya. Bukan sesuatu hal yang mudah. Apalagi setelah dia melalui banyak hal. Banyak hal yang kadang terjadi tuh nggak sesuai dengan apa yang kita mau kan? Kadang ada keselnya, kadang ada senengnya, kadang bisa sedih dan bikin emosi. Tapi menurutku itu hal wajar sih. Kalo seneng terus, atau sedih terus, hidup juga hambar banget kan?

Setelah membaca cerita Kak Esha, aku rasanya jadi adem gitu. Entah kenapa, tulisan Kak Esha nih heartwarming banget. Nggak muluk, tapi juga ngasih tau bahwa kehidupan ke depannya bisa lebih baik dan lebih menyenangkan. Kita cuma perlu mengikuti alurnya sambil berusaha dan berdoa, terus berubah jadi manusia yang lebih baik lagi. Tetap bertumbuh dan bermimpi.


Quote from Book
"Dengan berkhayal atau bermimpi yang enak-enak, semesta ini akan membawa kita kepada sesuatu yang memang selalu terngiang di otak kita." P. 5

"Carilah sahabat yang bukan hanya bisa mengisi tempat, tapi juga yang bisa diajak berdebat. Karena dengan berdebat, ikatan itu akan semakin kuat." P. 13

"Menikah itu ilmu tingkat tinggi. Makanya banyak yang gagal. Namun jangan dilihat gagalnya, yang berhasil juga banyak. Tengoklah orangtua kita, bisa tuh sampai tua. Eh, tapi buat yang orangtuanya pisah, bukan berarti lo nggak bisa untuk menjadikan pernikahan lo langgeng sampai maut memisahkan. Bisa banget kok. Semua ada di lo dan pasangan." P. 59

"Menurut gue, justru kita harus egois dalam hal kebahagiaan. Walaupun kebahagiaan itu kadang harus diraih dari sebuah tangisan dan penderitaan." P. 119

"Tenang, kita semua punya masalah yang silih berganti di depan mata. Masalah nggak akan berhenti menghampiri, tapi itu adalah hal yang baik. Setiap masalah yang menghantam, akan membuat kita menjadi kuat. Namun untuk menjadi kuat, semua butuh kerja keras." P. 132

Friday, May 21, 2021

[Review] Kisah untuk Dinda

 
 

Judul : Kisah untuk Dinda

Penulis : Erisca Febriani

Penerbit : Storial.co

Tebal : 316 Halaman

"Orang paling hebat itu bukan orang yang selalu menang, melainkan orang yang selalu dijatuhkan berkali-kali, tetapi selalu memilih buat bangkit. Mama percaya anak Mama begitu."


B L U R B

Berpacaran selama 5 tahun tidak lantas menjamin kelancaran hubungan Dinda dan Geri.

Geri sudah meraih mimpinya sebagai produser perusahaan pengembang gim, sementara Dinda masih berjuang mencapai impiannya menjadi makeup artist. Tanpa diduga, perbedaan ini menimbulkan masalah, hingga puncaknya menciptakan jarak dan memisahkan mereka. Geri hanya ingin membantu, tetapi Dinda menganggapnya terlalu ikut campur.

Bisakah keduanya menemukan titik temu untuk kembali bersatu?

Ini adalah kisah tentang seorang laki-laki yang berusaha memperjuangkan cintanya dan seorang gadis yang berusaha meraih mimpinya.

- - - - - - - -

Dinda, gadis penuh semangat yang baru saja mendapatkan posisi sebagai wakil direktur. Apakah dia senang? Tentu aja. Ini adalah pekerjaan yang sangat disenanginya, meskipun yang menjadi atasannya langsung adalah calon kakak iparnya sendiri, Kak Iren. Sayangnya, hal ini nggak berlangsung lama, karena curi dengarnya dia di ruangan kak Iren.
"Kenapa banyak orang larut dalam gim daripada dunia nyata? Karena dalam gim itu menawarkan ilusi. Mereka bisa dapat uang sebanyak-banyaknya, sementara di dunia nyata, mereka harus banting tulang susah payah untuk dapatin itu. Mereka bisa mendapatkan penghargaan dengan mudah. Perasaan berhasil yang sebetulnya ilusi." P. 90 to 91
Geri, cowok yang diusianya sekarang sudah jadi pengembang gim terkenal dan bisa dibilang cukup sukses juga lho! Buat dia, segala-galanya bakalan dilakuin selama itu membuat Dinda nyaman. Hubungan mereka ini juga unik menurutku, ya nggak unik sih, biasa aja. Normal gitu. Yang cowok pendiem, tapi yang cewek ekspresif banget.

Karena curi dengar yang dilakukan Dinda, hubungan mereka jadi berjarak. Malah membuat Dinda pengen banget menyudahi hubungan ini. Walaupun udah lima tahun jalan, tapi semuanya harus berhenti sebelum dia semakin sakit hati. Memangnya apa sih yang didengarnya dari Kak Iren, sampai-sampai dia pengen banget menyudahi hubungan yang nggak sebentar ini?


R E V I E W

Awalnya, aku kira, Kisah untuk Dinda ini harus dibaca dari Kisah untuk Geri, habisnya kayak lanjutan gitu kan katanya. Tapi ternyata bisa dibaca terpisah kok. Nggak bikin bingung juga. Suka deh. Hihi..

Kembali membaca karya kak Erisca setelah sekian lama tuh rasanya kayak kangen. Hehe.. Padahal bacanya cuma Serendipity aja. Haha.. Enggak, tapi tulisan kak Erisca selalu bisa menyentuh aku lho. Dan banyak banget pelajaran tentang kehidupannya.

Di awal membaca kisah ini, aku sudah disuguhi sama betapa manisnya hubungan Dinda-Geri. Gimana Geri nggak malu, biarpun Dinda ini ternyata anak seorang koruptor. Bahkan dia bangga dengan apa yang dilakuin sama Dinda. Cowok idaman banget ya? Bisa bikin cewek merasa puas dan cukup dengan dirinya sendiri. Nah, ternyata, semua yang didapatkan Dinda itu nggak murni dari jerih payahnya dia, tapi ada juga bantuan dari Geri. Nah, dari sinilah semuanya jadi masalah buat Dinda.

Yang aku suka, selain membahas hubungan Dinda-Geri, di sini juga dibahas tentang kehidupan keduanya, jadi yaa.. buku ini bisa dibaca lepas, tanpa perlu membaca Kisah untuk Geri. Selain itu, banyak banget masalah yang biasa kita hadapi sehari-hari dibahas di sini, mulai dari pekerjaan, keinginan untuk berubah dan berkembang menjadi lebih baik, persahabatan juga. Komplit banget! 

Aku juga suka sama Dinda yang pantang menyerah, walau menurutku, itu egonya yang berperan besar. Tapi aku suka, dia mau berusaha keras untuk apa yang dia suka, meski harus ditampar keras sama keadaan dulu. Hihi.. Tapi itu normal kok. Dann.. cukup banyak penjelasan tentang dunia gim. Meskipun nggak begitu dijelaskan mendetil, tapi kak Erisca menjelaskan secara keseluruhan tentang dunia gim secara luas gitu. Mulai dari divisi apa aja, kira-kira apa yang harus dikerjakan sama divisi tersebut, keren banget sih risetnya.


Quote from Book
"Kita tuh hidup menanggung kutukan itu; bangun, makan bekerja, istirahat, terus-menerus mengulang siklusnya tanpa henti. Upaya seseorang mendorong biar sampai di puncak itu cuma ilusi sesaat. Udah di atas, lihat seseorang ada yang lebih lagi, terus muncul sikap enggak mau puas, kita akhirnya mendorong batu itu lagi. Kutukan yang bikin manusia enggak pernah puas dan terobsesi mendapatkan sesuatu." P. 9

"Hati bukan barang, yang kalau rusak, bisa diganti sama hal baru. Enggak segampang itu." P. 65

"Enggak ada seseorang yang langsung jadi dewasa, semuanya butuh belajar, toh kita semua baru kali pertama kan hidup di dunia? Sesuatu yang memang ditakdirin buat kamu, dia bakal kembali, gimanapun caranya, tapi kalau bukan buat kamu, dia bakal pergi. Orang paling hebat itu bukan orang yang selalu menang, melainkan orang yang selalu dijatuhkan berkali-kali, tetapi selalu memilih buat bangkit. Mama percaya anak Mama begitu." P. 94

"Kesetaraan gender harusnya enggak hanya diberlakukan sama perempuan, cowok juga kan, kayak tadi tuh contohnya. Peraturan bahwa cowok enggak boleh nangis, itu kuno banget sih." P. 102

"Hei, enggak masalah, lagian patah hati tuh hal yang biasa kali, itu risiko. Cinta itu kan kayak bunga, ya. Kalau kita menanamnya, harus bertanggung jawab merawatnya, dan harus terima kenyataan seandainya suatu hari nanti bungan mati diserang hama atau penyakit." P. 115

"Terkadang seseorang butuh berbohong untuk menyelipkan kebahagiaan bagi orang lain." P. 161

"Hidup luar biasa, tapi enggak bahagia, buat apa? Orang-orang luar biasa tuh butuh kekuatan mental yang ekstra, makanya banyak artis depresi, karena tekanannya juga besar. Jadi gue mau jadi manusia biasa aja, yang hidup dan menghidupi, serta punya banyak waktu sama keluarga." P. 164

"Aneh banget, cowok yang punya nafsu, tapi cewek yang dipaksa menjaga cara berpakaian. Harusnya sama-sama, dong, biar adil. Cewek berpakaian seksi atau terbuka, bukan berarti memaklumi cowok-cowok buat memperbolehkan pelecehan ya, kamu inget itu. Susah banget jadi cewek, untuk jadi diri sendiri aja dipaksa buat bertanggung jawab sama pikiran banyak orang." P. 168

"Enggak usah menebak-nebak, deh. Kadang isi kepala tuh menjebak, enggak seharusnya lo langsung percaya, apalagi menduga-duga, daripada nyesal kemudian hari." P. 192

"Berbohong memang sebuah pertahanan diri yang akan dilakukan manusia untuk melindungi perasaannya. Berbohong untuk menutupi rasa sakit, berbohong untuk menjaga harga diri, dan jenis kebohongan yng sebenarnya adalah awal dari berbagai kebohongan lainnya." P. 218

"Lihat Bang Abdul sama Kak Iren, aku jadi sadar bahwa jatuh cinta sama seseorang itu gampang banget, tapi yang susah itu mempertahankan rasa cintanya. Ada kala perasaan itu bakal surut, cinta bisa memudar... tapi bukan berarti harus pasrah gitu aja, kan? Kalau pasrah berarti kalah, kalau menyerah berarti pisah." P. 298 to 299

Monday, May 10, 2021

[Review] Tambatan Hati

 
 

Judul : Tambatan Hati

Penulis : Titi Sanaria

Tebal : 390 Halaman

"Aku percaya itu. Kita nggak bisa menghindar dari cinta hanya karena menginginkannya. Kalau bisa, aku nggak akan berada di posisi sekarang. Mengejar-ngejar perempuan yang nggak memperlihatkan tanda-tanda tertarik kepadaku."


B L U R B

Setelah dua kisah cintanya yang gagal, Tita skeptis pada hubungan asmara. Dia tidak lagi percaya pada akhir bahagia seperti dalam novel-novel yang ditulisnya.

Jadi ketika Wahyu, bosnya, gencar melakukan pendekatan, Tita berusaha menghindar. Dia tidak mau menumpuk kecewa karena satu hubungan yang gagal lagi.

Apalagi saat kedekatan mereka ternyata malah menguak asal-usul Tita. Di dalam keluarga Wahyu, Tita akhirnya menemukan ibu kandung yang sudah meninggalkannya di panti asuhan saat dia masih bayi.

- - - - - - - - - -

Tita, seorang host di salah satu siaran TV. Memiliki program sendiri yang cukup asik. Mendatangi beberapa tempat, mencoba makanan khas di sana, mengenal budaya baru. Pekerjaan yang cukup menyenagkan bagi Tita, nggak terikat waktu kantor, dan nggak harus pakai baju formal. Yep! Kalau kalian melihat Tita, dia berasa gembel banget deh di antara temen-temen kantornya yang lain, apalagi kalau ngeliat ransel bututnya.
"Pernah nggak sih lo sadar kalau sebenarnya lo nggak bahagia karena lo sendiri yang memblokir kebahagiaan itu? Jangan terlalu keras sama diri sendiri, Ta. Orang-orang kagum sama pencapaian lo, tapi elonya malah nggak percaya diri. Lo nggak capek hidup dengan perasaan seperti itu?" P. 231
Wahyu, anak dari pemilik stasiun TV tempat Tita bekerja. Memutuskan menjomlo karena belum menemukan cewek yang tepat. Jangan kira Wahyu bakalan memanfaatkan kekuasaan ayahnya untuk melakukan hal buruk ya. Dia sebaik itu.

Pertemuan awal mereka memang cukup epic, tegang, sekaligus lucu. Tapi gimana kalau hal itu yang malah membuat Wahyu tertarik sama Tita. Meskipun Titanya cuek dan judes abis. Belum lagi masa lalu Tita cukup menjadi beban buat Tita sendiri. Bisa nggak ya, Wahyu membantu Tita untuk melewati itu semua?


R E V I E W

Awalnya, aku cukup bingung kenapa Tita kok nggak mau menjalin hubungan dengan siapa pun. Ya siapa juga yang nggak kesel kalau ternyata hanya dibuat taruhan aja? Kesel kan pastinya? Nggak hanya itu saja, masa lalu Tita yang cukup berat ini juga sedikit banyak berpengaruh lho. Yang dibahas selalu aja bibit, bebet, bobotnya seorang perempuan, hanya karena dia besar di panti asuhan.

Melihat bagaimana Tita tumbuh, aku cukup salut lho. Karena dia tumbuh jadi cewek yang kuat, tangguh, nggak neko-neko, pekerja keras pula! Nggak nyesel banget deh cowok yang jadi suaminya Tita ini. Tapi meskipun hebat, Tita ini juga sering ngerasa insecure sama dirinya sendiri. Ya tau sendiri kan gimana titelnya anak panti ini? Dibuanglah, haramlah, makanya kadang Tita memilih untuk menyendiri aja, membatasi diri, baik dalam berteman pun menjalin hubungan.

Untuk alurnya sendiri menurutku agak lambat ya. karena berfokus di Wahyu-Tita, kurang greget aja menurutku. Karena masalah utamanya kan nggak cuma di bagian Wahyu-Tita aja, tapi juga di bagian masa lalunya Tita.


Quote from Book
"Aku percaya itu. Kita nggak bisa menghindar dari cinta hanya karena menginginkannya. Kalau bisa, aku nggak akan berada di posisi sekarang. Mengejar-ngejar perempuan yang nggak memperlihatkan tanda-tanda tertarik kepadaku." P. 180

"Masa lalu Tita itu urusannya sih. Waktu ngejar-ngejar dia, gue nggak berpikir soal masa lalunya. Goalnya cuman untuk dapetin dia aja. Titik. Kenapa sekarang setelah kami bersama hal itu harus jadi masalah? Gue juga punya masa lalu." P 248 to 249

"Saat jatuh cinta, lo nggak bisa bermain aman, Ta. Jatuh cinta mungkin adalah satu-satunya jatuh yang bisa bikin kita semua bahagia. Tapi seperti jatuh-jatuh yang lain, selalu ada konsekuensi yang mengikutinya. Lo mungkin saja nggak jatuh sampai patah, tapi lukanya cukup parah. Atau luka lo nggak parah, tapi lecet. Atau bisa aja lo nggak lecet sedikit pun, tapi lo tetap saja malu karena ada yang lihatin pas lo jatuh." P. 261

"Yang mau gue bilang, wajar banget kalu lo mengantisipasi konsekuensi jatuh cinta untuk meminimalisir sakitnya, tapi lo nggak bisa benar-benar bahagia dan menikmati perasaan itu karena dihantui kata jangan-jangan yang belum tentu terjadi. Lo juga sudah belajar dari pengalaman. Cinta itu bisa datang dan pergi. Patah hati sifatnya nggak abadi. Jadi kenapa harus menahan diri?" P. 261

"Apa pun alasannya, diterima itu selalu menyenangkan." P. 278

"Soal berutnung dan nggak beruntung itu hanya persepsi elo sih, Ta. Menurut gue, lo jauh lebih beruntung daripada orag-orang yang punya keluarga lengkap, tapi keluarganya malah toxic." P. 283

"Dan kamu harus percaya kalau cinta bisa mengatasi perbedaan. Cinta akan membuat kita berkompromi dengan sukarela." P. 316

Saturday, May 1, 2021

[Review] Zero Sum Love

 
 

Judul : Zero Sum Love

Penulis : Dadodado

Tebal : 353 Halaman

"Menjadi ibu nggak menjadikan kamu harus berkorban terus-menerus untuk anak kamu. Hidup kamu sama berartinya dengan hidup Aksa. Kalau kamu belum merasa nyaman untuk berhubungan dengan orang yang baru, ya jangan."


B L U R B

Menjadi janda selama bertahun-tahun membuat Rhea menjadi nyaman untuk sendiri. Terlebih, kehadiran Aksara membuatnya fokus mengurusi anak semata wayangnya itu ketimbang pergi berkencan dengan orang baru.

Namun, ketiga sahabatnya tampaknya tidak setuju dengan pemikirannya. Oh, tambahkan juga tetangga barunya yang menyebalkan itu. Mereka berempat menggilir dia untuk pergi dari satu kencan ke kencan lainnya dan bertemu dengan berbagai macam pria.

Apa kali ini Rhea akan menemukan pria yang akan kembali membuatnya jatuh cinta dari sekian banyaknya pertemuan itu? Atau justru dia menemukannya di tempat yang tidak pernah disangka sebelumnya?

Tapi bagaimana dia bisa menjatuhkan hati ketika hatinya masih dimiliki oleh mendiang suaminya?

- - - - - - - - - -

Rhea, seorang janda satu anak. Kehidupannya baik-baik saja, Aksara—anaknya—tumbuh dengan baik dan pintar, sangat mengerti ibunya, berusaha sebisa mungkin untuk tidak merepotkan ibunya. Rhea sendiri juga tipe pekerja keras, berusaha sebisa mungkin untuk membuat Aksara senang, menghabiskan waktu dengannya di akhir minggu untuk bermain PS salah satunya. Ya meskipun kalah terus dan kadang bikin Aksara bosen.
"Lo siap gitu punya anak yang bukan darah daging lo sendiri? Bilang siap sekarang beda saat jalanin nantinya. Ever think kalau nanti lo punya anak juga perlakuan lo akan sama nggak?" P. 71
Janu, tetangga baru Rhea yang awalnya cukup menyebalkan karena dia melakukan hal yang tidak senonoh. Selain itu, dia juga nggak suka sama anak kecil. Padahal, Aksara suka banget main di tempatnya Janu karena dia bisa main PS dan Aksara selalu kalah kalo main sama dia. Kenapa dia nggak suka sama anak kecil ya?

Rhea sebenernya sudah capek, karena perjanjian konyol yang tak disengajanya, dia jadi harus ketemu sama cowok yang berbeda hampir setiap minggunya. Hampir ketiga temannya getol melakukan hal ini. Karena apa? Biar Rhea punya temen, apalagi Farras, dia cewek yang paling bersemangat buat ngejodohin Rhea. Tapi apa bisa? Wong Rheanya sendiri nggak ada keinginan untuk menemukan pasangan lagi. Hatinya udah nggak muat buat cowok lain.


R E V I E W


Selama baca buku ini, aku bisa cekikikan sendiri, senyum-senyum sendiri. Kayaknya udah kena sindrom Om Anu ya? Hahaha.. Tingkah mereka berdua cukup absurd sih menurutku.

Oke, aku bakalan bahas kehidupan Rhea dulu. Jadi janda apakah enak? Oh belum tentu. Kadang Rhea juga ngerasa kesepian, karena biasanya ada yang nemenin dia, ada yang jadi sandarannya dia ketika capek. Tapi semua itu tuh kayak ditepis sama dia. Buat Rhea, menikah itu sekali seumur hidup. Kalo sudah sama mendiang suaminya, ya udah. Dia selalu ada rasa bersalah waktu deket sama cowok lain. Takut menelantarkan anaknya juga. Padahal kalau dia mau, anaknya juga pasti membantunya kok.

Janu, tetangganya Rhea yang melakukan hal nggak senonoh di pertemuan pertama mereka ini menurutku lucu lho. Dia nggak suka anak kecil, tapi malah selalu direcokin sama Aksa. Herannya lagi, Aksa kayak langsung aja gitu deket sama dia. Padahal Janu tuh nggak ada ngebaik-baikin Aksa, yang ada Aksa disewotin, kadang nadanya juga judes banget. Tapi Aksa tetep milih untuk nempel terus sama Janu. Dia sendiri bahkan sering jadi tempat penitipannya Aksa, dan hubungan mereka juga semakin dekat lho.

Aku pribadi, lebih suka Zero Sum Love ini sih, daripada Out of Wedlock. Karena masalah di sini lebih kompleks. Nggak cuma pekara Rhea, tapi juga ada dimasukkan cerita persahabatannya, bagaimana hubungan mereka di sana, bagaimana gejolak hubungannya. Cuma memang, di sini bonding antara ibu dan anaknya nggak sekuat di Out of Wedlock. Masa lalu Janu juga dijelaskan kok. Bukan semata-mata dia cowok bebas yang nggak mau menikah dan nggak menyukai anak kecil. Aku suka sekali waktu baca ini. Hihi.. Jadi nggak sabar menunggu cerita sahabat-sahabatnya Rhea yang lain.


Quote from Book
"Ngeliat kalian punya anak itu nggak banget menurut gue. Don't get me wrong, I love Aksa and Kata, I'm their Godmother. Tapi punya anak sendiri itu nggak pernah masuk dalam hal yang ingin gue lakukan. Punya anak sendiri itu beraarti a lifetime commitment dan kalian tahu gue nggak bisa." P. 3 to 4

"Menjadi ibu nggak menjadikan kamu harus berkorban terus-menerus untuk anak kamu. Hidup kamu sama berartinya dengan hidup Aksa. Kalau kamu belum merasa nyaman untuk berhubungan dengan orang yang baru ya jangan." P. 75

"Orang-orang mengabaikan bagaimana seorang ibu harus menjaga kewarasannya di tengah tuntutan serta ekspektasi yang membabi-buta pada dirinya dari lingkungan." P. 77

"Kamu nggak akan pernah bener-bener mengenal orang sih, Rhe. People change. Bersama orang lain itu kayak belajar mengenai mereka seumur hidup, selalu ada hal baru yang lo kira nggak pernah mereka lakukan tapi ternyata iya." P. 125

"Hanya karena Farras terlihat cuek dan ceplas-ceplos, bukan berarti dia nggak bisa ngerasa sedih, kan? Cara dia dan lo ngelaluin fase kelabu aja yang berbeda." P. 235

"I don't know, just say you sorry you made her mad or sad maeby? Aku selalu bilang gitu. Biasanya mami bakalan kasih tahu aku salahnya di mana setelah itu aku bisa minta maaf properly. Kata Om Wira, kalaupun kita enggak tahu salahnya apa, bukan berarti juga kita benar." P. 291

"Kalau suatu saat nanti, gue bakalan alamin hal yang serupa. Gue bakalan jatuh cinta lagi ke seseorang yang tahu cara menghargai gue dan juga Hime. Seseorang yang lebih milih mati dibanding nyakitin kami berdua." P. 322