Wednesday, September 22, 2021

[Review] The Architecture of Love

The Architecture of Love

Ika Natassa

308 Halaman

Gramedia Pustaka Utama

"Kita memang tidak pernah bisa memastikan kapan kita bisa menerima masa lalu, seberapa jauh pun kita sudah mencoba melangkah ke masa depan."


B L U R B

New York mungkin berada di urutan teratas daftar kota yang paling banyak dijadikan setting cerita atau film. Di beberapa film Hollywood, mulai dari Nora Ephron's You've Got Mail hingga Martin Scorsese's Taxi Driver, New York bahkan bukan sekadar setting namun tampil sebagai "karakter" yang menghidupkan cerita.

Ke kota itulah Raia, seorang penulis, mengejar inspirasi setelah sekian lama tidak mampu menggoreskan satu kalimat pun.

Raia menjadikan setiap sudut New York "kantor"-nya. Berjalan kaki menyusuri Brooklyn sampai Queens, dia mencari sepenggal cerita di tiap jengkalnya, pada orang-orang yang berpapasan dengannya, dalam percakapan yang dia dengar, dalam tatatpan yang sedetik-dua detik bertaut dengan kedua matanya. Namun bahkan setelah melakukan itu setiap hari, ditemani daun-daun menguning berguguran hingga butiran salju yang memutihkan kota ini, layar laptop Raia masih saja kosong tanpa cerita.

Sampai akhirnya dia bertemu seseorang yang mengajarinya melihat kota ini dengan cara berbeda. Orang yang juga menyimpan rahasia yang tak pernah dia duga.

- - - - - - - - - -

Raia, seorang penulis yang sedang melarikan diri ke New York, berharap akan ada inspirasi untuk novel barunya. Sudah dua bulan dia berusaha untuk mencari inspirasi di kota yang amat dia kagumi. Sayangnya, dua bulannya sia-sia sejauh ini. Di malam tahun baru, dimana Raia sebenarnya malas untuk ikut dalam sebuah perayaan tahun baru, dia malah menemukan cowok yang menyendiri dalam sebuah kamar. Cowok yang tidak begitu menyukai perayaan tahun baru.
"Calendar does not decide when you are going to change your life for better. You do." P. 15
River, seorang arsitek yang menyendiri saat perayaan tahun baru. Pertemuan pertamanya dengan Raia bisa dibilang cukup mengagetkan, karena posisinya dia sedang menggambar di saat orang-orang lain sedang menikmati pergantian tahun. Di hari selanjutnya, dia malah tidak sengaja bertemu dengan Raia, saat sedang menggambar di Central Park. Sejak hari itulah, dia dan Raia janjian untuk berjalan bersama dari satu tempat ke tempat lainnya, berjalan mencari inspirasi dan menghabiskan waktu bersama.

Hubungan mereka baik-baik saja, sampai mereka diajak oleh Erin, sahabat Raia dan juga Aga, adik River, untuk menginap di salah satu vila. Satu kejadian yang cukup membuat hubungan mereka sedikit berjarak. Sejak awal, Raia memang tidak mengharapkan apa pun dari hubungannya dengan River. Tapi seiring berjalannya waktu, tentu aja ada kebiasaan yang membuat mereka nyaman. Apakah mereka akan jujur terhadap diri sendiri?


R E V I E W

Memilih untuk membaca buku kak Ika lagi setelah menimbunnya sekian lama. Heran juga aku, kenapa nimbun bacaan bagus kayak begini sekian lama.

Saat membaca kisah Raia dan River ini sejujurnya aku juga suka sama chemistry-nya mereka. Raia yang nggak terlalu kepo, dan River yang juga sedikit tertutup, herannya mereka berdua bisa cocok, bisa saling melengkapi gitu. River ini juga ternyata tipe pencerita, dia bisa datengin salah satu taman, atau bangunan yang menurutnya menarik, dan kemudian menceritakannya ke Raia. Entah itu kenapa bangunan tersebut ada, atau cerita lain yang berhubungan sama bangunan tersebut.

Selama membaca ini aku bener-bener dimanjain sama tempat-tempat yang jadi spot menulis dan menggambarnya Raia-River. Kak Ika menjelaskan dengan detil banget! Bener-bener mantep dah, kayak jalan-jalan virtual. Apalagi pandemi kayak begini kan.

Nggak hanya mengajarkan tentang pengenalan terhadap cinta baru ke satu sama lain, tapi mereka berdua juga dalam proses menyembuhkan trauma masing-masing. Pernah mengalami pernikahan yang gagal membuat keduanya ini nggak mau buru-buru untuk mengambil keputusan atas hubungan mereka, tapi mereka juga nggak menutup diri terhadap hubungan barunya ini. Meskipun awalnya River masih ragu, masih kebayang dengan masa lalunya.

Semoga kalian yang belum kenalan dengan Raia dan River, segera kenalan ya! Dijamin nggak akan menyesal lho.


Quote from Book
"Padahal sesungguhnya jika kita ingin membuat perubahan penting dalam hidup, memulai hari yang baru, kita sendiri yang paling tahu kapan saatnya yang paling tepat, bukan menunggu kalender." P. 15

"Kita memang tidak pernah bisa memastikan kapan kita bisa menerima masa lalu, seberapa jauh pun kita sudah mencoba melangkah ke masa depan." P. 60

"Architectur is sort of a combination of love, mind, and reason. Merancang bangunan itu nggak sekadar urusan teknis, nggak sekadar bikin bangunan yang aman dan nyaman, tapi juga mengakomodasi sentimental values pemiliknya." P. 94 to 95

"Kita selalu tahu kapan yang pertama, tapi kita tidak pernah tahu kapan yang terakhir untuk semua hal dalam hidup ini, sampai kita sendiri mengembuskan napas terakhir." P. 97

"Honestly, I always thought of muses as nothing more than state of mind. You believe someone or something as your inspiration, then you can write because you believe so." P. 155 to 156

"Mungkin ini satu lagi kutukan perempuan. Tetap melakukan sesuatu yang dia tahu dan sadar akan berujung menyakiti, hanya karena itulah yang diinginkan seseorang yang disayanginya." P. 171

"Banyak hal-hal paling pedih dalam hidup justru yang tidak bisa terjadi. Cinta yang tak terucap, permintaan maaf yang tak terlafalkan, pelukan yang tidak dapat dihantarkan, dan seperti yang dia rasakan sekarang ini. Dia rindu, dan rindu itu tidak dapat dia sampaikan." P. 212

"Dalam masalah cinta, kita semua perempuan biasa. Tidak ada yang super, tidak ada yang kebal dari patah hati." P. 226

"Tugas orangtua itu cuma membesarkan dan memberikan fondasi buat anaknya, Ya. Ikhlas. Tanpa perlu dibalas apa-apa karena sewaktu melakukan itu juga sudah jadi berkah buat Mamaw dan Papaw. Karena tidak semua ornag beruntung punya kesempatan melahirkan dan membersarkan anaknya sendiri." P. 253

"Masa lalu itu bukan untuk dihilangkan namun cukup diterima dan dilewati. Sesederhana itu. Dia tidak ada sekarang tapi di dulu pernah ada." P. 260

"Orang-orang bilang, siapa pun yang kita ingat pertama kali ketika ingin berbagi berita bahagia, bisa jadi sesungguhnya adalah orang yang paling penting dalam hidup kita tanpa kita sadari." P. 266

"Cinta memang terlalu penting untuk diserahkan pada takdir, tapi segigih apa pun kita memperjuangkan, tidak ada yang bisa melawan takdir." P. 270

"Menulis itu banyak berurusan dengan perasaan dan suasana hati, jadi tentu kejadian-kejadian kecil dan besar dalam hidup penulisnya bisa memengaruhi isnpirasi untuk datang atau pergi atau menghilang sementara." P. 281

No comments:

Post a Comment