Wednesday, February 9, 2022

[REVIEW] The Promise of Forever


The Promise of Forever

Ika Vihara

Elex Media Komputindo

372 Halaman

"It's more important to feel okay than to say we are okay."


B L U R B

Setelah kehilangan anak dan pernikahannya, Renae Adiana tidak lagi memercayai cinta dan adanya akhir yang bahagia. Dengan kekurangan terbesar yang dimiliki Renae, tidak akan ada laki-laki yang menginginkan Renae sebagai istrinya. Oleh karena itu, Renae mencurahkan waktunya untuk menyembuhkan trauma dan mengembangkan Le Papeterie—toko luxury stationery yang dirintisnya. Hal terakhir yang dibutuhkan Renae adalah kehadiran Halmar Karlsson—co-founder dan CEO InkLive—yang membuat Renae ingin merasakan dicintai dan mencintai lagi.

Halmar tidak pernah takut bekerja keras demi mewujudkan keinginannya. Sebuah perusahaan bioteknologi yang mendunia dan berbagai macam penghargaan yang diterimanya adalah bukti kegigihannya. Satu atau dua kalimat penolakan dari Renae tidak akan membuat langkah Halmar surut. Sebelum kembali ke Swedia, Halmar bertekad harus bisa memenangkan hati Renae, wanita yang menghuni pikirannya sejak pertemuan pertama. Hanya satu yang diminta Halmar dari Renae. Kesempatan untuk membuktikan janjinya. Akankah Renae berani memberikan? Atau Halmar terpaksa mundur dan menerima kekalahan?

- - - - - - - - - -

Hidup Renae Adiana berubah. Semenjak perpisahan dengan suaminya, cap buruk dari mertuanya, dan yang paling menyakitkan, anak yang dikandungnya meninggal. Hidup Renae selesai. Tidak ada lagi yang perlu diperjuangkan selain dirinya sendiri. Kesibukannya hanya berkutat pada La Papeterie, luxury stationery yang dibangunnya dulu, ah tentu saja Renae juga pergi ke psikolog untuk menyembuhkan traumanya.
"Semua orang ingin dicintai. Tetapi karena kita terlalu sibuk mencari orang yang mau mencintai kita, kita tidak menyadari bahwa ada diri sendiri yang siap melakukan tugas itu." P. 32
Halmar Karlsson, CEO InkLive—perusahaan bioteknologi yang mendunia karena terobosannya yang luar biasa banyak membantu dalam dunia kedokteran—memilih untuk berjuang mendekati Renae, walaupun Renae seringkali menarik ulur hubungan mereka. Semenjak Ibunya meninggal, Halmar tidak banyak berhubungan dengan orang luar, kecuali Renae. Mereka bisa saling memahami, kapan ada waktu yang memang mereka berdua sedang ingin sendiri, kapan mereka butuh teman. Mungkin karena Renae dan Halmar memiliki kesamaan, pernah kehilangan orang yang sangat mereka sayangi.

Seperti buku sebelumnya, Kak Ika mengangkat kembali isu kesehatan mental. Kali ini tetang kehilangan anak. Kehilangan anak, dalam kejadian apa pun, meninggal, keguguran, kecelakaan, itu nggak pernah mudah. Apalagi keluarga dari pihak Jeff—mantan suami Renae, amat sangat menginginkan anak. Tentu saja ini jadi beban banget buat Renae. Anak, siapa sih yang nggak menginginkan punya anak? Apalagi statusnya sudah menikah, sebagian besar pasangan, pasti ingin punya. Usaha Renae dan Jeff juga dirasa sudah cukup maksimal untuk menghadirkan seorang anak.

Tapi yang namanya mulut mertua, kadang setajam silet, dan bikin telinga sama hati panas ini yang nggak betah. Apalagi kalau nggak ada bantuan dari suami. Selama membaca kisah Renae-Jeff, jujur aku kesel banget. Jeff butuh ada yang disalahkan dalam hubungan mereka, tapi Jeff juga nggak ada usaha untuk menjelaskan bagaimana usahanya dengan Renae supaya punya anak. Atau membantu meredam cemoohan ibunya ketika Renae kehilangan anaknya. Bener-bener ya, Renae deserve better!

Kehadiran Halmar sebenarnya cukup membantu, karena Renae jadi percaya diri lagi, jadi nggak begitu sedih. Di sisi lain, Renae masih takut untuk menjalani hubungan yang baru. Mengingat umur mereka bukan umur-umur remaja yang masih haha hihi, tapi sudah memikirkan hubungan jangka panjang, nggak cuma sekadar pacaran. Ketakutan Renae inilah yang kadang membuat Renae jadi maju mundur dengan kebersamaannya bersama Halmar.

Nggak hanya tentang Halmar dan Renae, di sini juga cukup banyak membahas kehidupan Elmar, kakak Halmar. Alasan kenapa hubungan keduanya nggak baik-baik aja. Bagaimana cara mereka berdua berusaha memperbaiki hubungan mereka. Dan.. seperti kebanyakan yang terjadi di kehidupan nyata, ternyata Elmar juga merasakan, jadi anak pertama itu bebannya berat. Hehe.. Elmar yang cowok aja bilang kalau jadi anak pertama itu banyak beban yang dipikul, harus jadi panutan dan segala tetek bengeknya, apalagi kalau anak perempuan hehe..
 
My favorite person here is...  Halmar. Dia dengan segala kesabaran dan usahanya. Ya ampun, aku harus mengapresiasi cowok macem Halmar ini, karena sangat jarang cowok yang inisiatif untuk, "Aku harus gimana ya cara bikin dia seneng?" Tanpa mikir bahwa apa dia nggak suka ya? Karena nggak suka itu urusan belakangan, yang penting usaha dulu. Duh, nyari di mana sih cowok kayak begini? Ada sisa satu nggak ya?

Overall, aku suka sekali dengan buku ini. Perasaan Renae juga dijelaskan secara mendetil, sampai aku bisa merasakan emosinya Renae. Jujur, aku pun kalau di posisinya Renae, aku akan melakukan hal yang sama. Jangan sampai aku dikecewakan dua kali oleh perasaan yang sama. Meski gedek juga karena Renae sekeraskepala itu.


Quote from Book:
"Akan ada hari di mana kita lelah dan memerlukan waktu untuk mengisi ulang semangat dan tenaga. Akan ada hari di mana kita perlu menyendiri dan menjauh dari hiruk-pikuk dunia. Akan ada waktu di mana kita tidak tahu harus melakukan apa, selain memeras air mata. Akan ada hari di mana kita membutuhkan bantuan orang lain. Tidak. Kita tidak sedang malas, cengeng, atau lemah. Tetapi kita sedang menyayangi dan menghargai diri sendiri. It's more important to feel okay than to say we are okay." P. ix

"Semua orang ingin dicintai. Tetapi karena kita terlalu sibuk mencari orang yang mau mencintai kita, kita tidak menyadari bahwa ada diri sendiri yang siap melakukan tugas itu." P. 32

"Cinta yang bersumber dari luar bisa hilang sewaktu-waktu, bergantung kapan orang yang mencintai kita memutuskan untuk berhenti. Lain cerita ketika kita bisa mencintai diri sendiri. Tidak akan ada patah hati." P. 32

"Tidak akan bisa seseorang mengisi gelas dengan teko kosong. Tidak akan bisa seseorang mencintai orang lain kalau dalam dirinya sendiri belum terisi cinta yang sama." P. 33

"Kesepian dan kesendirian tidak bisa dijadikan modal untuk memulai sebuah hubungan. Sebab ketika kita mencintai seseorang di tengah rasa kesepian dan kesendirian, sejatinya kita sedang memanfaatkannya untuk mengisi lubang di dalam hati. Lubang yang timbul akibat kepergian, atau kematian, yang hingga kini masih sulit diterima sebagai kenyataan." P. 44

"Menjalani hidup setelah ditinggalkan orang yang kita cintai nggak mudah. Tapi buktinya kita bisa, Renae. Kita terus maju walau langkah kita berat. Walau kita terseok, terjatuh." P. 52 to 53

"Cinta itu... tentang kerja keras. Kita bekerja keras untuk mendapatkan tempat di hati seseorang yang membuat kita jatuh cinta. Lalu setelah dapat, kita tetap bekerja keras membuktikan kita setia, membuktikan cinta kita untuknya tidak memudar." P. 56

"Setiap orang harus berani bermimpi. Berimajinasi jauh meninggalkan realitas. Nggak akan ada internet kalau ngggak ada orang-orang seperti itu. Nggak akan ada helikopter yang terbang di langit Mars sekarang. Mereka gagal berkali-kali sebelum bisa mencapai itu semua, cuma saja mereka nggak pernah menyesali kegagalan dengan diam. Mereka bergerak." P. 122

"Manusia tidak bisa menjalani hidup dengan berpikir bahwa mereka bisa seratus persen mengatur—atau sekadar memprediksi—apa yang akan terjadi pada dirinya satu menit kemudian. Seandainya bisa, tentu Renae tidak akan kehilangan anak perempuannya." P. 137

"Seandainya, ini seandainya, aku ingin menjalin hubungan dengan seseorang, ingin menikah dengan seseorang, aku berharap aku bertemu dengan orang yang bisa bersikap dewasa. Yang tahu cinta bukan perkara hitam dan putih. Yang bisa memahami walaupun aku mengatakan mencintainya, aku tetap bisa mencintai banyak orang lain. Dengan jenis cinta yang berbeda." P. 142

"Kamu tahu, kan, setiap orang punay sejarah hidup? Sejarah yang membentuk mereka menjadi diri mereka yang sekarang. Yang lebih baik. Dalam perjalanan hidup yang telah mereka lalui, pasti banyak orang terlibat dan salah satunya adalah mantan pasangan." P. 146

"Itu bukan diperbudak cinta. Itu namanya tolol. Seharusnya cinta nggak menyusahkan salah satu pihak. Orang yang benar-benar mencintai pasti paham seperti apa kondisi pasangannya—termasuk keuangan—dan nggak akan menuntut sesuatu di luar kemampuan pasangannya. Bagaimana bisa ada orang yang bahagia dalam sebuah hubungan saat pasangannya menderita?" P. 163

"Kepergian seseorang yang kita cintai mengubah hidup kita dengan cara yang nggak pernah kita bayangkan sebelumnya. Hati dan dunia kita hancur. Tiap orang perlu waktu berbeda-beda untuk terbiasa dengan perubahan tersebut." P. 167

"Itu salah satu bagian menyenangkan dari jatuh cinta. Kamu nggak tahu kapan, di mana atau bagaimana akan bertemu dengan seseorang yang membuatmu jatuh cinta. Seseorang yang mencintaimu. Aku juga nggak menyangka aku akan ketemu sama Halmar." P. 196

"Saat ini, Renae, aku ingin perjalanan cinta kita sama seperti bianglala. Bianglala yang nggak pernah berhenti. Pasti akan ada turun dan naik layaknya hidup. Tapi tidak mengagetkan kita dan kita terus bersama dalam setiap putarannya. Dan selalu punya alasan untuk bahagia, baik saat di atas maupun di bawah." P. 215

"Apa yang kita miliki sekarang nggak bisa diukur harganya. Nggak ada satu benda pun di dunia yang bisa kugunakan untuk mengganti kebahagiaan yang telah kamu berikan padaku. Aku akan selalu memberikan kesetiaan dan cintaku kepadamu." P. 227

"Cinta nggak mengenal konsep waktu. Bisa saja kamu hanya perlu waktu satu detik untuk jatuh cinta. Atau bisa juga cinta di hatimu tumbuh perlahan pada banyak tahun yang kamu habiskan bersama seseorang." P. 228 to 229.

"Orang paling beruntung di dunia, masih kata ibu Halmar, adalah mereka yang bisa bersama dengan orang-orang yang mereka cintai dan yang mencintai mereka yang selalu ada untuk mereka, yang bersedia berbagi suka maupun duka." P. 257

"Hanya karena kita mencintai seseorang, hanya karena dua orang saling mencintai, bukan berarti mereka ditakdirkan untuk hidup bahagia bersama selama-lamanya. Iya kalau segera tahu takdir itu di awal. Kalau sudah lama bersama, sudah telanjur menikah ternyata kita nggak berjodoh? Rasanya akan lebih berat." P. 271

"To have a child with someone you are in love with is an incredible experience. Apalagi dia... pernah merasakannya. Merasakan menciptakan kehidupan baru bersama seseorang, dan saat dia percaya dia tidak akan pernah lagi merasakannya bersamamu, orang yang dia cintai... pasti itu membuat hatinya hancur." P. 325

"Kalau dipikir memang susah. Mengadopsi anak, mencintai anak yang nggak kita lahirkan? Ya, susah karena kita meragukan kemampuan hati. Kalau kita percaya pada hati kita dan menyerahkan urusan cinta padanya, ternyata mudah. Heart always sees things the mind cannot understand." P. 331

"Kita menikah bukan karena mengharapkan sesuatu dari seseorang yang kita cintai. Tapi karena kita tidak bisa hidup tanpa seseorang yang kita cintai." P. 333

No comments:

Post a Comment