Friday, April 16, 2021

[Review] Triyin' to be Loved

 
 

Judul : Tryin' to be Loved

Penulis : Chammels

Penerbit : Kata Depan

Tebal : 286 Halaman

"Enggak ada salahnya sekali-sekali kita jadi egois. Enggak baik juga kalau selamanya menahan diri. Lo tau, nggak? Hidup ini tuh tentang kita, bukan mereka. Kalau kita nggak bahagia, buat apa?"

 
B L U R B
 
Ada lima tahapan untuk jatuh cinta.
 
Pertama, kamu harus bertemu dengan orang yang tepat. edua, kamu akan merasakan bagaimana jantungmu berdegup kencang atau wajahmu yang perlahan memanas saat bersama dia. Ketiga, kamu mulai menyangkal perasaan sukamu yang terasa terlalu cepat. Keempat, kamu menerima kalau kamu mencintainya. Kelima, perjalanan cinta tak selalu indah hingga kamu harus tahu, bagaimana caranya untuk melepaskan.

Bagi Gemma, hidup itu berat. Gemma memaksa dirinya untuk menjadi gadis yang bisa dicintai semua orang. Sayangnya, pandangan dari orang lain bukan hal yang mudah untuk dikendalikan.

Bagi Redza, pandangan orang lain itu tidak penting. Redza hidup untuk dirinya sendiri. Namun, orangtuanya tidak pernah menyukai jalan hidup pilihannya.
 
Dipertemukan secara tidak sengaja membuat mereka lambat laun sadar kalau sebenarnya mereka saling membutuhkan satu sama lain. Hanya saja, tidak pernah ada yang tahu, kalau memang Gemma dan Redza sudah bertemu, apakah mereka benar-benar bisa bersatu?
 
- - - - - - - - - -

Gemma Larasati, gadis kecil yang hidupnya nggak baik-baik aja. Memiliki kanker yang sudah cukup mengganggunya, belum lagi orang tua yang tidak begitu peduli terhadapnya. Bagaimana dengan teman? Gemma memang baik, sangat baik malah, tapi hal inilah yang membuatnya sering dimanfaatkan oleh orang-orang di sekitarnya. Tak terkecuali orang tuanya. Menyebalkan ya?
"Kalau nanti... Redza udah lama nggak ketemu Gemma, Redza bakal lupa juga sama Gemma? Kalau nanti Redza beda pendapat sama Gemma, apa Redza bakal benci sama Gemma?" P. 93
Redza, cowok yang memiliki tujuan hidup yang cukup jelas, sayangnya nggak direstui orang tuanya. Orang tuanya menyuruhnya untuk mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang politikus. Apakah Redza mau? Tentu aja enggak! Yang Redza mau ya mengikuti passionnya, menjadi seniman. Bukan politik seperti ayahnya, apalagi, seperti yang kita tahu, bahwa dunia politik tuh busuk banget.

Pertemuan pertama mereka, cukup menegangkan dan unik. Bahkan bisa dibilang lucu dan nekad! Pertemuan kedua mereka tetap memorable malah menurutku. Apa bisa ya seorang Redza yang kepala batu ini diubah oleh cintanya Gemma yang lembut?


R E V I E W

Ah, pertama kali membaca Gemma ini cukup membingungkan. Karena kayak nggak dibedakan gitu masa lalu sama masa sekarangnya. Dibedain sih sebenernya di bagian judul bab, tapi nggak diberi tau signifikannya di bab berikutnya tahun berapa. Nggak begitu mengganggu kok, karena setelah membaca bab berikutnya, aku sudah bisa menikmati ceritanya.

Selama membaca ini, aku bener-bener hanyut sama kebaikannya Gemma. Ya ampun! Aku juga gemes sendiri sih sama Gemma. Produk terlalu baik! Padahal kalau dia mau egois sedikit untuk dirinya sendiri juga nggak papa lho. Nggak ada yang ngelarang, nggak ada yang marah juga. Herannya dia malah baik ke semua orang, alesannya karena takut kehilangan. Memang sih, aku nggak bisa juga nyuruh Gemma untuk memilih teman yang baik, karena semua orang takut kehilangan kan? Apalagi Gemma sendiri memang udah terbiasa dicampakin. Ya udah nggak papa. Pahalanya Gemma pasti banyak sekali.

Yang aku salut sama Redza malah. Dia ini hebatnya ya, berani memilih passionnya. Meskipun itu berarti dia harus mengorbankan semuanya. Dia kecewa? Di awal mungkin iya, tapi lama kelamaan, dia juga enjoy kok. Selain itu, aku suka sama sikap dewasanya dia, cara dia memandang hidup dan bagaimana seharusnya menjadi diri sendiri. Nggak menggurui, tapi dia juga banyak memberikan nasehat secara nggak langsung untuk, "Yuk, pilih temen yang baik, biar mental juga baik."

Pas kelar baca ini, meskipun aku nangis, aku puas banget sama endingnya. Nggak salah memang salah satu pembaca yang bilang bahwa ini adalah cerita happy ending, aku seratus persen percaya! Penasaran sama bukunya? Lebih baik langsung pesan bukunya aja deh. Karena emang beneran sebagus itu sih. Hihi..


Q U O T A B L E

"Gem, tau nggak sih. Orang tua sama anak itu, keduanya sama-sama manusia. Kamu bisa punya raganya, tapi kamu nggak bisa miliki jiwanya. Kamu bisa jaga pakaiannya, tapi kamu nggak bisa ganggu ideologinya. Kamu bisa punya genetik yang sama, tapi kamu nggak bisa menyamakan ego sama mereka. Karena, pada dasarnya kita punya pandangan dan prioritas masing-masing tentang hidup." P. 93

No comments:

Post a Comment