Monday, October 12, 2020

[Review] Ben & Becca

 

Judul : Ben  & Becca

Penulis : Titi Sanaria

Penerbit : Black Pearl Publisher

Tebal : 307 Halaman

“Bedalah kehilangan klien dengan kehilangan elo. Klie itu datang dan pergi, sedangkan lo, gue nggak yakin bakal balik lagi kalau udah mutusin pergi.”

 

B L U R B

 

Dua orang yang terjebak dalam persahabatan.

 

Nyaman bersama, tetapi tidak pernah berpikir untuk menjalin hubungan yang lebih. Perbedaan prinsip dan gaya hidup membuat hubungan sebatas teman lebih mudah dijalani. Bersahabat selalu mudah dan menyenangkan sampai cinta hadir.

 

Karena cinta bisa membuatmu mendapatkan semuanya ketika rasa itu berhasil menyatukan, atau malah kehilangan segalanya saat hubungan itu tidak berakhir sesuai harapan.

 

- - - - - - -

 

Becca, seorang pekerja kantoran yang pendiam, berbicara seperlunya dan memiliki dua sahabat terdekatnya. Rhe dan Ben. Sampai saat ini, Becca masih tidak memiliki pasangan. Tidak ada alas an pastinya. Kriterianya juga masih belum jelas, yang jelas sih kalau pun nanti dia nyari pasangan, jangan sampai kayak Ben, yang suka buang-buang spermanya di mana-mana, di cewek yang nggak begitu jelas juntrungannya.

“Gue cuma perlu bilang sama lo biar nggak naïf. Manusia itu nggak sekadar berwarna hitam-putih. Mereka menyembunyikan warna-warna dalam hati dan kepala mereka, yang terkadang nggak ingin mereka bagi dengan kita.” P. 40

Ben, seorang pengacara dengan kelakuan yang bikin kedua sahabatnya ngelus dada saking tobatnya. Kali ini dia mendapat kasus pembunuhan, yang cukup aneh sebenernya. Tersangkanya adalah Prita, teman Becca saat kuliah. Hal yang cukup mengejutkan bagi Becca juga tentunya. Sambil berjalannya waktu inilah, Ben dan Becca mulai mencari siapa yang salah, dan siapa sangka kalau karena kasus ini juga, mereka berdua mulai mempertanyakan situasi hati mereka juga.

 

 

R E V I E W

 

Gimana sih rasanya jatuh cinta sama sahabat sendiri? Kebanyakan dari kita pasti memilih untuk nggak jatuh cinta kan? Banyak banget pertimbangannya. Apalagi sering banget kedengeran bahwa kalau kita jatuh cinta sama sahabat sendiri, nanti kalau putus, kita nggak cuma kehilangan pacar, tapi juga sahabat sekaligus. Menurutku sih nggak ada masalah, selama bisa dikomunikasikan dengan baik. Kan semua itu balik lagi ke komunikasi kan?

 

Membaca Ben dan Becca ini kukira awalnya cuma perjalanan cinta Ben/Becca untuk menemukan ‘the one’. Tapi ternyata, lebih dari itu loh! Nggak cuma ngebahas tentang percintaannya aja, tapi juga tentang persahabatan juga dan ada sedikit cerita kriminalnya. Seru banget. Meskipun di bagian awalnya sedikit membosankan, karena berputar-putar di Ben yang kadang cemburuan nggak jelas, kadang cranky abis, labil banget si Ben ini.

 

Di novel ini, aku rasa kak Titi lebih luwes nulisnya, lebih bebas gitu. Aku suka sih gaya nulisnya yang di sini, gayanya mirip-mirip kayak nulis Dirt On My Boots gitu. Selain itu, novel ini juga mengajarkan aku gimana cara menilai orang. Jangan terburu-buru menilai orang, apalagi cuma dari cerita orang aja, atau sekilas aja. Jangan terlalu naïf juga. Nggak baik! :p

 

 

Quotable:

“Memangnya apa? Rumah tangga samawa itu ada seks di dalamnya. Memangnya anak-anak dibikin sambil tatap-tapan doang? Jangan naïf, Becca. Kebanyakan orang menikah karena cinta, dan nggak ada cinta antara laki-laki dan perempuan yang nggak melibatkan gairah. Nonsense itu.” P. 48

“Kita sering mengabaikan apa yang kita punya sampai saat kita kehilangan, Ben.” P. 80

“Memenangkan pertempuran orang lain memang lebih gampang daripada memenangkan perang batin sendiri.” P. 134

“Jodoh terkadang benar-benar aneh. Butuh waktu setelah bertualang untuk tersadar bahwa orang yang menjadi belahan jiwa kita sebenarnya adalah orang yang selama ini berada di sisi kita.” P. 299

No comments:

Post a Comment