Monday, October 15, 2018

[Review] My Sexy Roomate


Judul : My Sexy Roomate

Penulis : Flara Deviana

Penerbit : Hikaru Publishing

Tebal : 398 Halaman

"Aku janji kamu tidak akan pernah melihatku terpuruk. Karena aku telah belajar tentang arti kekuatan darimu."


BLURB

Bagi Alfarezi Bagaskara, menuruti permintaan seorang wanita bernama Mia adalah hal paling konyol yang pernah ia lakukan seumur hidupnya. Bagaimana mungkin seorang dokter muda berparas tampan seperti dirinya, harus terlibat affair dengan salah satu pegawai administrasi rumah sakit tempatnya bekerja. Apalagi, Mia jauh dari tipe wanita yang ia inginkan.

Namun, setelah beberapa hari diam-diam memperhatikan Mia, Alfa mulai tertarik dengan wanita itu. meskipun pada akhirnya ada kenyataan pahit yang harus alfa terima, yaitu Mia ternyata sakit parah. Wanita itu selalu meyakinkannya bahwa ia baik-baik saja, tapi justru Alfa berniat menikahinya agar bisa memaksanya untuk menjalani pengobatan.

Hingga suatu ketika, masa lalu Mia membuat posisi Alfa makin terhimpit.

Akankah Mia bertahan di sisa waktunya demi mendapatkan apa yang selama ini diinginkannya? Dan akankah Alfa menyadari kekeliruannya selama ini?

- - - - - - - - -

Lamia Maharani, seorang suster yang bekerja di salah satu rumah sakit ternama. Entah kesambet setan apa, dia mendadak menuju ke ruangan Alfarezi, seorang dokter muda di sana, dan mengajukan diri sebagai roommate. Iya, roommate di sini dalam artian cewek yang berbagi ranjang atau sebutan lain semacamnya. Awalnya, hal tersebut ditolak langsung oleh Alfa. Bagi Alfa, dia bukan tipenya.
"Mia, ini bukan tentang menciptakan kenangan indah sebanyak yang kamu mau, tapi ini tentang caara membahagiakan diri sendiri. Kamu tahu, bahagia itu bisa jadi obat paling mujarab dalam proses penyembuhan kamu." — P. 96
Alfarezi Bagaskara, dokter muda, disukai banyak wanita. Suka mencari roommate. Baginya, roommate adalah selingan. Selingan untuk hatinya, agar dia nggak terus-menerus mengingat dokter Ines. Dokter yang sejak dulu selalu dia cari, dia butuhkan, dia sayangi. Sayangnya, hal itu nggak terbalas. Dokter Ines menikah dengan laki-laki lain. Awalnya Alfa pikir, Mia akan seperti roommate lainnya. Berakhir sekadar di ranjang saja. Tapi nyatanya? Dia mulai sedikit peduli pada Mia. Lalu, bagaimana perasaannya terhadap dokter Ines?

Tak hanya sampai di situ saja, Abe, saudara sepupu Alfa, selalu mengingatkan agar dia tak main-main dengan Mia, mengingat dia juga memiliki masalah yang sama. Belum lagi, Mia juga ada sangkut pautnya dengan sesuatu di masa lalu dengan dokter Ines. Masa lalu seperti apa? Bisakah Alfa memberitahu Mia? Bisakah Alfa mencintai Mia?


Novel ini novel dengan label dewasa. Baik di bagian cover depan, pun cover belakang. Menurutku, ya bener sih, agak dewasa soalnya. Warning juga kan buat anak kecil atau anak di bawah umur. Selain itu, aku suka aja sama gaya bahasanya kak Flara ini. Meskipun gayanya kekinian, termasuk alur dan sebagainya, belum lagi 'kesempurnaannya' Alfa sebagai dokter ganteng, kaya, bisa segalanya dan lainnya, ada kekurangannya. Dan cukup realistis menurutku. Nggak yang gimanaaaa gitu.

Meskipun begitu, aku juga ngrasa ada loncatan gitu di bagian penjabaran masalah Mia dan dokter Ines. Sampe-sampe aku ngrasa, apa halamannya loncat ya? Tapi ternyata nggak. Cuma kurang runut aja menurutku. Mendadak gitu. Menurutku sih. Selebihnya, aku suka novel ini. Penggambaran latar tempatnya juga lengkap.

Dengan tema, yang lagi-lagi penyesalan. Nggak tau deh, kesambet apa aku, bacaannya penyesalan melulu. Novelnya bisa bikin kita belajar pelan-pelan. Move on dengan hati yang lapang. Move on dengan keinginan hati, bukan paksaan dari orang lain. Dan belajar, kalau semua yang kita mau, nggak selamanya bisa kita dapetin.

Quotable :
"Kalau wanita sudah pergi, berarti kesalahan kita sebagai pria sudah terlalu parah." — P. 255

"Terkadang wanita pergi bukan karena dia benci, tapi untuk memberi jeda antara dia dan prianya, terutama saat hubungan dimulai dari sebuah kesalahan. Berpisah adalah jalan terbaik untuk keduanya mencari tahu arti dari hubungan yang mereka jalani." — P. 281

"Al, wanita suka diperjuangkan. Bukan menuntut untuk diperjuangkan, tapi memang kodratnya seperti itu. Wanita dikejar, pria mengejar." — P. 286

No comments:

Post a Comment