Sunday, December 30, 2018

[Review] Kinanti featuring Arantxa


Judul : Kinanti featuring Arantxa

Penulis : Wiwien Wintarto

Penerbit : Gramedia

Tebal : 261 Halaman

"Yap. Sesuatu bisa terjadi karena dilatarbelakangi banyak sekali kejadian lain yang saling berkaitan dengan sangat kompleks. Semua saling memengaruhi satu sama lain — kayak chain reaction. Nggak harus peristiwa yang gede dan spektakuler. Bisa juga yang kecil dan remeh kayak lupa ngiket tali sepatu....."


BLURB

Demi menghindari lamaran pengusaha bebek bangkotan, Kinanti terpaksa meninggalkan desanya menuju Semarang.
Dalam segala keterbatasan, ia harus memulai lembaran baru yang asing dan tak menentu.

Berbagai karakter unik ia temui. Arantxa yang hobi keluyuran, Rendra yang tidak tamat kuliah, serta Theo yang tidak punya gairah hidup.

Mereka semua berada pada persimpangan paling kritis untuk menentukan masa depan. Ketika tak menemukan pegangan, mau tak mau mereka harus saling mendukung. ATau mimpi mereka akan menjauh, tak akan pernah bisa diraih lagi.

Lalu pada suatu malam, di depan piano, musik membuat satu per satu hati mereka menjumpai keajaiban yang paling indah...

- - - - - - - - - -

Menceritakan tentang Kinanti, si anak desa yang hijrah ke Semarang dalam rangka 'kabur' dari pernikahan yang diinginkan kakek tua pengusaha bebek di desanya, daerah sekitaran Borobudur, Magelang. Selama ini, hidupnya bisa dibilang berkecukupan. Bapaknya bekerja di sawah, cukup untuk membiayai hidupnya, dan juga kedua adiknya yang masih bersekolah. Tapi, karena dia ingin menghindari kakek bangkotan inilah, dia akhirnya pergi ke Semarang, bekerja dengan orang yang masih memiliki kerabat di desanya.
"Soal agama kan nggak bisa dipaksain. Masa mau mukulin kamu yang nggak salat? Ntar kamu salat bukan karena nyembah Allah don, tapi karena takut ma tongkat pemukul! Bapak bilang, kalau ada yang belum mau ibadah, anggap saja itu pilihan, bukan lantas dicap sesat. Yang penting kita sudah ngajak. Soal dia mau atau nggak, udah bukan urusan kita." — P. 179
Sesampainya di Semarang, Kinanti nggak punya gambaran apa-apa sama apa yang bakal dijalaninya nanti. Yang dia tau, nanti dia akan menjadi pekerja kantoran bagian bersih-bersih dan juga ART. Selebihnya, dia nggak berekspektasi apapun, karena memang dia nggak menginginkan apapun. Tapi yang terjadi, dia malah terlibat dalam berbagai acara yang diadakan Arantxa, anak pemilik rumah yang ditempatinya, bertemu dengan teman yang mirip dengan temannya di desa, dan juga membuatnya memasuki kehidupan yang baru dengan segala harapan yang tiba-tiba datang. Apa sikap yang akan diambilnya?


Huahhh.. Suka banget sama novel ini! Baca ini tanpa berekspektasi, novelnya akan happy ending atau sad ending. Yang jelas sih aku baca aja. Baca dari blurbnya sendiri, kukira novel ini tuh novel amore gitu, yang ngebahas tentang pernikahan. Ternyata nggak! Nggak sama sekali.

Pas baca novel ini, agak ketampar dikit. Ketamparnya karena kadang aku sendiri males sama apa yang aku pengen, tapi kadang agak susah nyapainya. Jadi kadang mulai deh, males-malesan, mageran, dan segala-galanya. Meskipun tercapai, kadang kayak susaahhhhh banget. Nah, di novel ini, kita diajak untuk sadar, sama apa yang kita alami, gimana cara ngakalinnya, gimana cara kita berubah. Nggak ada manusia yang sempurna, adanya manusia yang mau terus belajar untuk memperbaiki diri. Emang sih, kalau ngomong doang gampang, tapi bener deh, nggak ada yang susah untuk melakukan sesuatu. Asal kita niat aja.

Selain itu, yang aku suka di sini, novel ini tuh ngangkat budaya Jawa Tengah. Jadi mulai dari bahasanya, ada yang pake bahasa jawa, belum lagi budaya jawa lain yang diangkat di novel ini. Suka banget. Sambil menyelam minum air. Sambil baca novel, kita juga belajar budaya dari suku lain.

No comments:

Post a Comment