Monday, December 3, 2018

[Review] Di Tanah Lada


Judul : Di Tanah Lada

Penulis : Ziggy Zesyazeoviennazabrizkie

Penerbit : Gramedia

Tebal : 244 Halaman

"Miris, lho, setiap kali Mas dengar kalian bicara tentang hidup dan masa depan."


BLURB

Namanya Salva. Panggilannya Ava.
Namun papanya memanggil dia Saliva atau ludah karena menganggapnya tidak berguna.
Ava sekeluarga pindah ke Rusun Nero setelah Kakek Kia meninggal.
Kakek Kia, ayahnya Papa, pernah memberi Ava kamus sebagai hadiah ulang tahun yang ketiga.
Sejak itu Ava menjadi anak yang pintar berbahasa Indonesia.
Sayangnya, kebanyakan orang dewasa lebih menganggap penting anak yang pintar berbahasa Inggris.
Setelah pindah ke Rusun Nero, Ava bertemu dengan anak laki-laki bernama P.
Iya, namanya hanya terdiri dari satu huruf P.
Dari pertemuan itulah, petualangan Ava dan P bermula hingga sampai pada akhir yang mengejutkan.

- - - - - - - - -

Menceritakan tentang Ava, anak perempuan yang berusia enam tahun, tapi bisa dibilang dia sangat cerdas masalah bahasa Indonesia. Sayangnya, dia memiliki keluarga yang tidak baik-baik saja. Ayahnya penjudi dan pemarah, bahkan bisa dibilang monster. Sementara mamanya juga nggak berani berbuat apa-apa selain menangis dan membiarkan sang Ayah marah-marah. Hidup mereka perlahan berubah, apalagi ketika Kakek Kia, kakek Ava dari pihak ayahnya meninggal, ayah Ava makin menjadi-jadi, dan malah memindahkan hidup mereka ke sebuah rusun. Rusun yang jelek, kumuh dan dekat dengan tempat perjudian.
"Nggak akan ketahuan. Kalau sudah main judi, orang nggak ingat apa-apa lagi. Tadi juga, Mama kamu pergi dari Papa kamu, tapi Papa kamu nggak sadar. Berarti, dia bisa pergi dari Papa kamu dari tadi. Kalau kata aku sih, Mama kamu aja yang lupa sama kamu." — P. 37
P. Seorang anak laki-laki. Ya, namanya hanya P, tidak ada nama panjang, apalagi nama lengkap. Ayahnya seorang penjudi, dan juga memiliki perangai buruk. Suka marah-marah, suka memukul, yah, 11-12 dengan papanya Ava. Cuma aja, karena sejak kecil P sudah harus hidup keras, dia jadi lebih mandiri ketimbang Ava. Selain itu, daya pikir P juga sudah lebih jauh ketimbang anak seumurannya.

Awal pertemuan mereka, ketika Ava disuruh mencari makan di sekitar rusun Nero, dan dia menemukan rumah yang menjual nasi ayam, sayangnya, dia nggak bisa makan sendiri, karena terbiasa disuwirkan mamanya. Dan di saat itulah, P datang. Awalnya, Ava mengira P adalah seorang pengamen. Ternyata bukan, dia hanya anak seperti dirinya di rusun Nero. Kebiasaannya sehari-hari hanya bermain. Memang itu yang dilakukan anak berumur sepuluh tahun, kan? Tapi, bagaimana kalau kemudian Ava membawa warna baru bagi P dan sebaliknya? Bagaimana kalau ternyata, P bisa membawa Ava berpetualang?


Novel ini menarik meskipun aku terkesan telat banget, karena buku ini udah lama juga. Sepandanganku, selama ini novel itu selalu diambil dari sudut pandang orang dewasa, atau dari sudut pandang orang ketiga serba tau. Kali ini beda, novelnya diambil dari sudut pandang anak kecil. Jadi beda banget dari buku kebanyakan.

Di novel ini, Ava diceritakan sebagai anak kecil yang suka membawa kamus ke mana-mana. Setiap ada pembicaraan yang dia nggak paham kosakatanya, dia bakalan buka kamus dan langsung mencari tau arti kata tersebut. Bisa dibilang dia ini cukup cerdas untuk anak seumurannya lah. Meski kadang aku mikir, kayaknya nggak ada anak yang begini di sekitarku. Selain itu, meskipun konflik yang diambil terkesan biasa, karena ini diambil dari sudut pandang anak kecil, hal ini jadi nggak biasa dan menarik banget menurutku.

Untuk alur ceritanya sendiri, maju dan mundur. Mundur itu karena menceritakan beberapa kelakuan ayahnya di masa lalu.

Kesanku pas baca cerita ini, seru sih. Plot twistnya nggak ketebak! Nggak kepikiran juga, kalo anak kecil bakalan ngambil keputusan sebesar itu. Bikin aku langsung mikir, "Kayaknya dulu pas aku kecil nggak pernah mikir segininya deh."

Quotable :
"Kamu bisa kok hidup bahagia. Bagaimana pun hidup kamu sekarang. Masa depan, siapa tahu, kan? Kamu mungkin nggak punya Papa yang baik, seperti kebanyakan orang. Tapi, kamu masih bisa bahagia. Mungkin, kamu nggak perlu Papa yang baik untuk bisa bahagia." — P. 197

No comments:

Post a Comment